PASURUAN I bidik.news – Memasuki Agustus ini, produksi garam di Kabupaten Pasuruan mulai pelaksanaan. Ini seiring dengan persiapan lahan dan meja garam yang telah rampung pada Juli 2025.i
Plt Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan Soegeng Soebijanto menjelaskan, pada Agustus ini para petambak mulai mempersiapkan air tua, yaitu lapisan air paling atas yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan garam.
“Seharusnya pada Juni-Juli garam sudah mulai dipanen. Namun, karena cuaca kurang mendukung, baru pada Juli kemarin dilakukan persiapan lahan dan meja garam. Bulan ini kita fokus mempersiapkan air tua,” ujarnya, Rabu (20/8/2025).
Meski proses produksi telah dimulai, Pemerintah Kabupaten Pasuruan tidak menetapkan target produksi garam setiap tahun. Menurut Soegeng, hasil panen sangat dipengaruhi kondisi cuaca, terlebih tahun ini Indonesia mengalami kemarau basah yang cukup panjang.
“Target tidak kita tetapkan karena faktor cuaca sangat menentukan. Tahun ini kemarau basah cukup panjang, termasuk di Kabupaten Pasuruan,” tukas Soegeng.
Saat ditanya perihal hasil produksi garam dalam dua tahun terakhir, Soegeng menjelaskan panennya mengalami penurunan. Sebut saja di tahun 2023, total produksi garam selama setahun mencapai 16.709,39 ton. Akan tetapi di tahun 2024 malah turun menjadi 15.225,39 ton.
Meski begitu, Soegeng optimis sisa beberapa bulan sebelum datang musim penghujan, produksi garam di 4 wilayah Kecamatan seperti Bangil, Kraton, Rejoso dan Lekok akani maksimal.
“Kita harapkan di sisa bulan, hasil produksi garam bisa meningkat di 224 hektar tambak garam yang ada di 4 kecamatan potensial,” ucapnya.
Sementara itu, untuk memaksimalkan produksi garam di Kabupaten Pasuruan, tahun ini Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur memberikan bantuan geo membran kepada Kelompok tani tambak “Sari Laut” di Desa Raci, Kecamatan Bangil.
Menurut Soegeng, bantuan tersebut telah disalurkan pada bulan juli lalu sehingga kelompok tani tambak bisa mempersiapkan produksi garam, lebih awal.
Dengan menggunakan geo membran, kualitas produksi garam yang dihasilkan sudah meningkat atau kualitasnya jauh lebih baik bila dibanding dengan produksi garam tradisional.
“Kalau pakai geo membran, kualitas garam yang dihasilkan lebih bagus dan harga jualnya lebih tinggi antara Rp 1500-Rp 2000 per kilogramya,” ujarnya.
Memang kendala produksi garam saat ini adalah faktor cuaca karena di Indonesia khususnya Kabupaten Pasuruan memasuki cuaca kemarau basah, yakni sewaktu-waktu bisa datang mendung lalu hujan. Ini yang membuat produksi garam tak maksimal. (rusdi)











