BIDIK NEWS | MALANG – Suasana di lobi Karaoke Anang di Jl. Jaksa Agung Soeprapto Minggu, (24/3) malam, mendadak riuh dipenuhi ratusan orang. Dari usia anak anak hingga dewasa terlihat di area lobi yang juga di konsep mini cafe itu. Adapun kemeriahan itu, dikarenakan adanya launching mini Album dari kelompok Band yang semua anggotanya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Yang mengejutkan, band dengan nama Tiga Nada itu bergenre rock.
Isa Aprilia (Ka Ica) selaku manager. Launching 3 Nada and friends awal ini menceritakan bagaimana momentum ini adalah pijakan baru sebelum remaja. Jadi kenangan indah semasa mereka kecil kita ungkapkan di album sebuah langkah awal 3 Nada and Friends ini.
Masing-masing personalnya ada bintang di drum, ada Nana di vokal, ada Tirta di Keyboard, ada Jacky di vokal, ada Gisel di Gitar dan ada Bulan di Bass.
Diakui Ica, sejak mereka masih TK sudah menggeluti musik. Tiga Nada and Friends sudah empat tahun eksis. Namun untuk cover lagu-lagu rock baru berani di tahun 2019 ini sejaligus meluncurkan karya.
“Kalau liriknya mereka sendiri. Jadi kalau untuk arangerny ada Norman ‘C4’, Unyep dan juga guru disekolah musik kami. Kita berusaha dan mendukung anak-anak untuk menciptakan karya. 40 persen didirect dan 60 persen memainkan sendiri,” Jelas Ica.
Saat ditanya mengapa genre yang dipilih musik rock, Ica mengatakan jika sebenarnya di sekolah musik tempat para personil belajar, telah mengenalkan berbagi macam genre, namun yang dipilih musik rock.
“Semangat main musik mereka mengalami peningkatan kalau main musik rock. Jadi ya kita ikuti saja mau mereka,” tambah guru musik sekalogus manajer tiga nada tersebut.
Album yang dilaunching berisi tiga lagu. Lagu pertama “Hey” merupakan ajakan untuk teman-teman agar mempedulikan satu sama lain. Yang kedua “kenangan indah” mengajak teman-teman mengingat masa kecilnya. Ketiga “dengarkanlah doaku” bercerita tentang rasa syukur mempunyai orang tua yang sudah merawat dari kecil hingga menjadikan semua persomilnya seperti ini.
Dalam setiap manggung dan dalam format album ini, Tiga Nada and Friends ini mengajak teman-temannya untuk mengurangi ketergantungan kepada gadget. Setiap kali main mereka selalu mengajak teman-teman sebayanya untuk tidak tergantung kepada gadget. Merespon penikmat musik mereka untuk mengisi waktu luang dengan hal yang positif.
Norman, selaku music director, mengakui saat pertama diminta membuat lagu untuk anak-anak merasa tertantang. Kemudian setelah ia terima tawaran itu, Norman tidak ingin odenya yang dipakai namun lebih merangsang ide ide personilnya, meskipun masih anak anak.
“Akhirnya terjadi kolaborasi. Jadi bukan saya pencipta lagunya, tapi kita semua yang kolaborasi. Jadi sekitar 40 persen kita semua. Mengajar anak-anak ini sama sekali tidak susah. Karena di umur seperti ini mereka tidak tergantung dengan orang tua. Malah lebih mudah mengatur band mereka yang terdiri dari anak kecil dari pada yang sudah besar itu,” terang personil Band Indie Malang C4 itu.
Kalau saya lihat potensi mereka tergantung sekolah yang memberikan mereka pendidikan. Tapi setidaknya saat ini mereka telah menunjukkan yang pada saat tua nanti bisa diakui atau mungkin selama ini meledak maka bisa diaturlah dalam pendidikannya. Kalau saya pikir dengan adanya karya ini sudah cukup. Apalagi minat musik di Malang sudah menurun hal ini terlihat dalam kecilnya orang untuk masuk dalam. Kursus musik.
Setelah materi musik siap, pembuat video klip, Eko Polenk (Hypnosis Creative Media) merespon dengan antusias. Baginya, hampir tidak ada anak seusia mereka namun mau dan bisa berkarya. Terlebih, semua pengerjaannya digarap profesional dan serius, juga terpenting tidak ada unsur eksploitasi anak sama sekali.
“Video Clip yang saya garap itu di lagu Dengarkan Doaku. Lagu itu menyentuh sekali buat saya, itu terinspirasi dari kisah hidup Mas Pandu,” tutup polenk sambil menyembunyikan haru.
Seperti dikatakan, sosok Pandu yang disebut sebagai inspirasi terbesar lagu Dengarkan Doaku, adalah penyandang disabilitas berpotensi dan penuh semangat, ia mampu memainkan banyak jenis alat musik. Pandu dikisahkan tidak buta sejak kecil, namun saat smester lima masa kuliah, karena suatu hal ia mengalami kebutaan. (Doi)











