SURABAYA – Masih banyak anak bangsa yang kurang hafal menyanyikan lagu Wajib kebangsaan Republik Indonesia di karenakan kurang gencarnya lagu wajib ini di kumandangkan diberbagai kegiatan.
Menurut Hadi Dediansyah Anggota DPRD Jatim, salah satu kekurangannya adalah minimnya tayangkan lagu wajib kebangsaan RI diberbagai media televisi.
“Saat ini media televisi menyajikan lagu kebangsaan dikala anak- anak kita masih tidur. Seharusnya media televisi menyajikan lagu kebangsaan saat anak kita berada di sekolah. Jadi bisa ikut menyanyi bersama-sama teman di sekolah,” terang Cak Dedi sapaan akrab Hadi Dediansyah pada Minggu ( 12/3/2022).
Politisi asal Fraksi Partai Gerindra Jatim ini melihat media televisi saat ini justru malah sering menyajikan lagu-lagu mars sebuah partai terus menerus, sehingga anak-anak kita justru lebih fasih menghafalkan lagu mars sebuah partai di bandingkan menghafalkan lagu wajib kebangsaan RI.

Selain itu, lanjut Cak Dedi, disekolah-sekolah yang biasanya menyanyikan lagu kebangsaan RI pada hari Senin saat upacara bendera sudah mulai jarang dikumandangkan, apalagi saat pandemi yang melarang pihak sekolah berkerumun .
“Semoga pandemi usai sehingga upacara bendera di sekolah pada hari senen bisa diadakan kembali, agar anak didik kita kembali mengumandangkan lagu kebangsaan RI, ” jelas Anggota Komisi E DPRD Jatim.
Wakil ketua Partai Gerindra Jatim ini juga mendorong agar pihak sekolah mewajibkan anak didiknya sebelum proses pembelajaran di mulai supaya menyanyikan lagu kebangsaan RI.
“Saya berharap Menteri Pendidikan harus bersikap lebih arif karena bagaimanapun juga lagu kebangsaan adalah lagu wajib. Semua warga negara harus bisa menyanyikan lagu kebangsaan terutama generasi bangsa, baik tingkat SD, SMP, SMA dan Mahasiswa. Semua harus hafal lagu kebangsaan Republik Indonesia,” papar Cak Dedi asli arek Surabaya.
Sedangkan Surokim, narasumber pada acara wawasan kebangsaan ini mengatakan jangan pernah lelah untuk terus mengontekstualisasi rasa kebangsaan kita dengan perubahan tantangan jaman baru. Karena setiap jaman pasti ada tantangannya yang berbeda.
“Kita harus bersepakat bahwa negara ini akan abadi dangan cara memperkuat ikatan bathin diantara generasi ke generasi,” katanya.
Direktur lembaga SSC ini juga menyampaikan, perasaan berbangsa dan bernegara itu akan kuat manakala banyak lahir suri tauladan baru dan yang paling utama adalah para penyelenggara negara harus bisa memberi contoh yang baik pada warganya.
“Anak-anak muda tidak boleh kehilangan siapa yang menjadi panutan. Saat ini banyak penyelenggara negara yang nihil mencontohkan suri tauladan yang baik, sehingga tidak mampu menjadi mata air bagi peradapan bangsa,” terang Surokim.
“Semangat kebangsaan muncul manakala menjadi semangat kerja karena akan mengantarkan negeri ini akan jauh lebih kuat. Sebagai bangsa besar jangan lupakan Sejarah. Karena bangsa besar adalah bangsa yang bisa menghormati para pendiri bangsa,” pungkasnya. ( rofik)











