Coffee Morning ‘Cangkrukan Media di Jatim bersama OJK KR4’ di kantor OJK KR4 Jatim, Gedung BI Lantai 4, Jl. Pahlawan, Surabaya, Rabu (25/7). (Foto : Ist)
BIDIK NEWS | SURABAYA – Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, stabilitas sektor jasa keuangan dan kondisi likuiditas di pasar keuangan Indonesia masih dalam kondisi terjaga.
Indikator terkini menunjukkan, akselerasi pertumbuhan ekonomi global berlanjut dengan negara maju menjadi motor penggerak utama, terutama perekonomian Amerika Serikat (AS). Namun, momentum perbaikan perekonomian global dibayangi kenaikan suku bunga kebijakan AS, krisis politik Italia dan
kembali menguatnya tensi perang dagang, yang memberi sentimen negatif pada pasar keuangan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sotarduga Napitupulu, Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (LJK1) menjelaskan, gejolak di pasar global mendorong IHSG pada Mei 2018 melemah tipis 0,18 persen dan ditutup di level 5983.6, dengan investor nonresiden yang mencatatkan net sell Rp 6,45 triliun.
“Di pasar SBN yield SBN tenor jangka pendek,
menengah dan panjang, masing-masing naik 46,3 bps, 25,2 bps, dan 27,8 bps (Apr’18, rata-rata meningkat 21 bps). Investor nonresiden mencatatkan net sell di pasar SBN sebesar Rp 11,5 triliun,” kata Sotarduga saat Coffee Morning ‘Cangkrukan Media di Jatim bersama OJK KR4’ di kantor OJK KR4 Jatim, Gedung Bank Indonesia (BI) Lantai 4, Jl. Pahlawan, Surabaya, Rabu (25/7).
Di tengah perkembangan pasar keuangan, lanjutnya, kinerja intermediasi sektor
jasa keuangan pada Mei 2018 terus menunjukkan perbaikan. Kredit perbankan tumbuh 10,26 persen yoy (Apr’18, 8,94% yoy) dan piutang pembiayaan tumbuh 6,37 persen yoy (Apr’18, 6,36% yoy).
“Perbaikan kinerja intermediasi ini didukung pertumbuhan positif Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan yang tercatat 6,47 persen yoy. Sementara, premi asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi masing-masing tumbuh tinggi 31,49 persen dan 19,28 persen yoy,” ungkap Sotarduga yang didampingi Kuswandono, Deputi Direktur Pengawasan LJK dan Perizinan KR4 Jatim.
Di tambahkan Sotarduga, di pasar modal, penghimpunan dana di pasar modal hingga 22 Juni 2018 mencapai Rp 89,3 triliun, meningkat dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 60 triliun. Emiten baru tercatat sebanyak 20 perusahaan (Jan-Mei’17: 10 perusahaan). Total dana kelolaan investasi hingga 22 Juni 2018 mencapai Rp 729,3 triliun.
“Di tengah sentimen yang mewarnai pasar keuangan domestik, risiko LJK (risiko
kredit, pasar, dan likuiditas) masih terjaga pada level yang manageable. Rasio Non-
Performing Loan (NPL) gross perbankan tercatat 2,79 persen (Apr’18, 2,79%) dan rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan tercatat 3,12 persen (Apr’18: 3,01%),” tuturnya.
Sementara itu, permodalan LJK juga terjaga robust dengan CAR perbankan 22,45 persen serta RBC asuransi umum dan asuransi jiwa
masing-masing 319 persen dan 442 persen.
“OJK akan terus memantau dinamika perekonomian global dan domestik, khususnya terkait laju kenaikan FFR, tren kenaikan suku bunga, dan perkembangan negosiasi dagang AS-Tiongkok. OJK juga mempersiapkan
serangkaian kebijakan untuk memastikan stabilitas pasar keuangan dan kinerja sektor jasa keuangan domestik tetap terjaga di tengah peningkatan volatilitas pasar,” pungkasnya. (hari)











