BANYUWANGI | bidik.news – Buntut kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan AF Warga Negara Asing (WNA) asal Rusia terhadap Surohadinoto warga lokal, sejumlah warga yang tergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aliansi Rakyat Banyuwangi (ARB) menggelar aksi solidaritas di depan Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Kamis (16/4/2026).
Aksi diawali dengan long march dari depan pintu masuk Pantai Boom Marina menuju Pendopo Sabha Swagata Blambangan sembari membentangkan spanduk bertuliskan ‘Tolak Kampung Rusia di Banyuwangi’ dan ‘°Adili Kekerasan Oknum Rusia Terhadap Warga Lokal’.
Koordinator aksi sekaligus Ketua LSM ARB, Mujiono menyampaikan, aksi ini digelar sebagai bentuk solidaritas terhadap kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan WNA Rusia kepada warga lokal.
“Kedatangan kami sebagai bentuk solidaritas terhadap kasus penganiayaan yang dilakukan AF terhadap warga lokal,” ujar Mujiono.
“Aksi ini sengaja kami gelar di depan pendopo, karena kami mendapat info Kedutaan Besar (Dubes) Rusia akan datang hari ini di Pendopo Banyuwangi,” imbuhnya.
Mujiono berharap Pemkab Banyuwangi berpihak kepada rakyatnya yaitu warga Banyuwangi, jangan sampai memihak kepada warga negara asing.
“Kami mendengar WNA Rusia tersebut datang ke Banyuwangi memakai visa kunjungan wisata, namun nyatanya dia disini bekerja dan mengelola sebuah restoran dan club mewah. Untuk kami berharap pemkab tidak goyang terhadap intervensi apapun dan tidak kongkalikong terhadap antek-antek asing,” tegasnya.
Ditambahkan Mujiono, pihaknya juga mendukung penuh Polresta Banyuwangi dalam menangani perkara ini. Ia berharap Polresta Banyuwangi tetap tegas, presisi dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
“Kami mendapat informasi hari ini kepolisian melakukan panggilan kedua terhadap AF, karena surat panggilan pertama diabaikan,” tandasnya.
Mujiono menyesalkan, dengan berjalannya proses hukum ini, tidak ada itikad baik dari pihak AF untuk meminta maaf kepada korban Surohadinoto, padahal korban telah membuka pintu lebar-lebar.
“Kami sudah membuka peluang mediasi, dengan berbagai cara yang kami lakukan agar AF terketuk hatinya untuk menemui korban. Namun dengan keegoannya dan kekuasaannya, AF telah mengabaikan masyarakat lokal,” keluhnya.
Mujiono juga menyampaikan, hingga saat ini kondisi korban masih belum bisa bekerja, hasil rontgen jari kakinya ada yang patah setelah kejadian tersebut.(nng)











