BIDIK NEWS | BANYUWANGI – Perilaku sex menyimpang yang lebih dikenal Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT), tampaknya mulai menjamur di Kabupaten Banyuwangi.
Salah satunya, para kaum Gay di Banyuwangi saat ini sudah berani membuat sebuah komunitas melalui akun media sosial Facebook (FB). Melalui akun FB itulah mereka berkomunikasi.
Dari pantauan media, saat ini ada delapan akun FB yang disinyalir sebagai akun Gay di Banyuwangi. Dari jumlah akun tersebut, ada yang mudah terdeteksi namun ada juga yang sulit terdeteksi, karena akunnya disamarkan dari publik.
Nama-nama akun FB Gay tersebut diantaranya, ‘Gay Seluruh Banyuwangi’ dengan 1.914 anggota, ‘Cowok Banyuwangi Gay’ sebanyak 901 anggota, ‘Banyuwangi Gay Boy’ 324 anggota, ‘Komunitas Gay Bisek Banyuwangi’ 72 anggota, ‘Solidaritas Gay / Bisek Banyuwangi’ 159 anggota, ‘Banyuwangi Gay’s (BWI 1 G)’ 1039 anggota, ‘Kumpulan Arek Banyuwangi pin BB atau WhatsApp cowok gay’ 1138 anggota dan ‘Cowok Eksostis Genteng Banyuwangi’ sebanyak 733 anggota.
Secara terang-terangan mereka berkomunikasi di akun FB tersebut. Bahkan siapapun bisa mengakses dan melihat percakapan, aktivitas apapun yang ada di grup ini tanpa mengirimkan permintaan ke admin terlebih dahulu. Grup ini lebih terbuka. Namun, hampir mayoritas grup ini dihuni para lelaki, karena mayoritas anggotanya, memasang foto profil laki-laki.
“Pengen dikeloni saiki khusus top bwi kota #inbox ok,” tulis di salah satu akun FB Gay tersebut.
Menanggapi hal itu, Tenaga Pengajar dan Koselor Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Banyuwangi, Yuli Fitria S.Psi, M.Si. mengatakan, seseorang dapat menjadi seorang gay yang menyimpang secara aktifitas seksualnya dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya faktor genetik, trauma psikis, lingkungan sosial dan gaya hidup pergaulan yang tidak sehat menyebabkan seseorang ikut terpengaruh.
“Disalah satu akun gay atau grup dengan homoseksual, mereka yang awalnya tidak homo bisa menjadi homo,” kata Yuli.
Menurutnya, pada umumnya komunitas gay menyasar para remaja cowok usia remaja awal, karena di usia ini masa coba-coba sangat tinggi. Ketika yang didapat kesenangan, mereka akan cenderung mengulangi, sehingga mudah untuk dipengaruhi dan mereka cenderung tidak tahu akan resiko.
Padahal, perilaku seks menyimpang tersebut, rentan dengan penyakit HIV/ AIDS yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya.
“Semoga group gay di Medsos yang heboh di Banyuwangi itu hanya anonimity, dan sebatas akun bodong. Tujuannya untuk menggiring opini publik yang ujung-ujungnya untuk mencari keuntungan,” ungkapnya.
Namun, jika ternyata akun tersebut benar adanya, pihaknya berharap agar segenap pihak terkait tanggap dan segera melakukan tindakan.
“Untuk upaya pencegahan awal, pihak terkait harus melakukan pendekatan secara humanis, yaitu memberikan wejangan kepada masyarakat tentang bahaya komunitas “Gay” jika sampai muncul tengah-tengah masyarakat. Saya kira dengan langkah tersebut bisa menyelamatkan generasi muda di Banyuwangi,” terang Yuli.(nng)







