BANYUWANGI | bidik.news – Penganiayaan relawan Ganjar Mahfud oleh oknum anggota TNI di Boyolali mendapatkan kecaman keras dari akademisi Banyuwangi, Fajar Isnaeni.
Menurut Fajar, entah apapun dalihnya, penganiayaan yang dilakukan oknum prajurit TNI di Boyolali terhadap masyarakat sipil merupakan bentuk aksi brutal oleh aparatur negara yang di bayar oleh uang pajak rakyat.
“Kami mengecam dan mengutuk keras aksi brutal penganiayaan yang dilakukan sejumlah oknum TNI tersebut,” ucap Fajar, Minggu (31/12/2023).
Tugas aparatur negara melindungi rakyat bukan sewenang wenang menggunakan kekuatannya menghardik dan memukul rakyat.
“Ini perlu dilakukan penyelidikan dengan baik dan berimbang, karena ini masalah HAM warga sipil yang mulai di cabik-cabik oleh oknum tidak bertanggung jawab,” ungkap dosen yang sejak 1996 sudah aktif di pendampingan kelompok masyarakat rentan ini.
Kejadian Boyolali, lanjut Fajar, menjadi perhatian masyarakat Indonesia karena ada dua warga sipil yang cedera dan di rawat setelah di keroyok oknum TNI. Penyidikan tuntas kasus ini penting sesegera mungkin, karena bisa menjadi duri dalam perhelatan pilpres kali ini.
TNI harus berani menyampaikan terbuka hasil penyelidikan kasus ini kepada masyarakat. Ini bukan saja tentang relawan Ganjar Mahfud saja, namun yang lebih penting adalah jangan sampai masyarakat sipil merasa ada campur tangan kekuasaan menggunakan aparatur negara untuk mengintimidasi pendukung atau relawan salah satu paslon capres-cawapres.
“Ini untuk kepentingan TNI yang selama sudah mendapatkan tempat di hati rakyat dan menjadi tentara rakyat, jangan karena nila setitik rusak susu sebelanga,” tegas Fajar.
“Kasus ini harus menjadi kasus yang terakhir dan tidak terulang, menangkap dan melakukan proses hukum yang transparan bagi para pelaku kebiadaban adalah wajib di lakukan. Karena, kita semua menginginkan pileg dan pilpres berjalan dengan damai dan sejuk” tambah pria yang juga Ketua Kampung Merdeka Banyuwangi ini memungkasi. (nng)











