JAKARTA | bidik.news – Actavis Indonesia mengenalkan produk tiotropium dengan teknologi ZONDA®️ inhaler di Indonesia. Bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Actavis Indonesia menggelar seminar ilmiah bertema “Teknologi Inhaler dan Sistem Penghantaran Obat untuk Pengendalian Penyakit Paru”, Kamis (23/5/2024) di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta.
Tampil sebagai pembicara Dr. dr. Susanthy. Djajalaksana, Sp.P(K) dan dr. Budhi Antariksa, Ph.D, Sp.P(K), dengan moderator dr. Alvin Kosasih, Sp.P(K), MKM.
Data World Health Organization (WHO) menyebutkan, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) penyebab kematian ke-3 di dunia, dengan angka kematian penderita PPOK mencapai 3,23 juta orang pada 2019. PPOK salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.
Penyebabnya antara lain karena tingginya pajanan faktor risiko, seperti faktor pejamu yang diduga berhubungan dengan kejadian PPOK, antara lain meningkatnya perokok pada kelompok usia muda dan pencemaran udara di dalam dan di luar ruangan atau di tempat kerja. Serta meningkatnya usia harapan hidup.
Dalam paparannya, Dr. dr. Susanthy. Djajalaksana, Sp.P(K) menyampaikan, PPOK adalah penyakit yang umum, dapat dicegah dan diobati. Peran tenaga medis dalam memberikan diagnosa
yang tepat dan lebih dini menjadi penting, sehingga dapat mengurangi perkembangan penyakit dan risiko kondisi yang lebih buruk atau komplikasi pada penderita PPOK.
Selain itu perawatan dan pemantauan yang berkelanjutan juga sangat penting untuk mengelola gejala dan mencegah komplikasi. “Dengan pengelolaan PPOK yang tepat, kualitas hidup penderita PPOK akan menjadi lebih baik. Kehadiran produk tiotropium dengan teknologi ZONDA®️ inhaler diharapkan dapat memperkaya khasanah pengobatan PPOK di Indonesia,” kata dr. Santhy.
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) salah satu penyakit yang mengganggu pada sistem pernapasan, dimana organ paru-paru mengalami peradangan dalam jangka waktu lama. Kondisi peradangan ini secara klinis ditemukan di sebagian organ paru atau bisa juga seluruhnya.
Penyakit obstruksi paru yang menahun ini bersifat progresif atau dapat memburuk sejalan dengan waktu. Namun dengan pengobatan yang tepat, penderita penyakit obstruktif menahun dapat terbebas dari gejala dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Penggunaan inhaler dengan kandungan tiotropium bromide menjadi metode medis untuk mengendalikan dan mencegah gejala yang timbul akibat asma dan penyakit PPOK. Tiotropium mampu mengendalikan gejala, bekerja dengan cara merelaksasi dan melebarkan otot pada saluran pernapasan. Sehingga penderita PPOK dapat bernapas dengan lebih mudah.
dr. Budhi Antariksa, Ph.D, Sp.P(K) Ketua Pokja Asma PPOK PDPI yang menjadi pembicara ke-2 memaparkan, Tiotropium menjadi pilihan pengobatan yang bermanfaat bagi pasien dengan kondisi pernapasan kronis, telah terbukti secara klinis mampu meningkatkan
fungsi paru-paru, mengurangi sesak napas, serta gangguan pernapasan akut. Pemberian obat ini mampu meningkatkan kualitas hidup pasien-pasien PPOK.
“Saya menghimbau kalangan medis untuk menyarankan penderita PPOK
menghindari pajanan, seperti polusi udara ataupun asap rokok yang dapat menyebabkan kian buruknya saluran pernapasan mereka,” ujar dr. Budhi.
Selain penyampaian paparan terkait PPOK, pengendalian dan pencegahan gejala, pada seminar ini dikenalkan juga tiotropium dengan teknologi ZONDA®️ inhaler dari Actavis Indonesia. Tiotropium sudah menjadi standar utama pengobatan penyakit paru obstruktif dan asma.
Peran aktif tiotropium membuka hambatan pernafasan melalui relaksasi otot saluran pernafasan, sehingga
udara dapat masuk dan keluar paru tanpa hambatan. Penggunaan teknologi ZONDA inhaler memastikan kadar tiotropium yang terukur dan efektif dalam mengontrol pembukaan saluran
pernafasan.
Penggunaan tiotropium dengan teknologi Zonda ini tentunya tetap harus di bawah pengawasan dokter atau ahli.
Berdasarkan pengalaman penggunaan tiotropium pada pasien PPOK, penggunaan obat ini secara teratur terbukti tidak hanya membantu penderita saat mengalami sesak napas, tetapi juga dapat meminimalkan efek penyakit dalam kehidupan sehari-hari, sehingga penderita dapat terus
beraktivitas dan meningkatkan kualitas hidup mereka dengan risiko efek samping yang lebih rendah.
“PPOK termasuk kategori penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan, namun dengan perawatan yang tepat, pasien dapat mengelola gejala dan memperlambat kemajuan penyakit. Kami sangat bangga dapat menggelar seminar hybrid ini bersama PDPI untuk
menyampaikan informasi terkini terkait sistem pengobatan dan penanganan penyakit paru,” kata Hanadi Setiarto, President Direktur PT Actavis Indonesia.
Hanadi berharap, kehadiran tiotropium dengan ZONDA®️ inhaler dari Actavis dapat menjadi pilihan untuk pengobatan pemeliharaan PPOK di Indonesia. Penggunaan tiotropium secara rutin dapat membantu penderita ketika sesak napas. Juga meminimalkan efek penyakit dalam kehidupan sehari-hari, sehingga penderita dapat tetap melakukan aktivitas dan meningkatkan kualitas hidup mereka. “Karena it’s not just about tiotropium, it’s about living in premium,” tambah Hanadi.









