KEDIRI | BIDIK.NEWS – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Jatim mengadakan Leaders Public Talk and Press Conference APBN KiTa Regional Jatim hingga 28 Februari 2023 secara luring di Aula KPPN Jl. Basuki Rahmat No.10 Kediri, Rabu (29/3/2023).
Selain diikuti peserta dari Kemenkeu di Kediri Raya, juga dihadiri BI Kediri, OJK Kediri, Kepala BPKAD lingkup Kediri Raya (kota/kab. Kediri, Trenggalek), Kepala Bappeda (kota/kab Kediri, Trenggalek, beberapa Perguruan Tinggi di Jatim serta Walikota Kediri.
Covid-19 dan Perkembangan Ekonomi Regional Jatim
Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jatim Taukhid menyampaikan, pada Februari terjadi penambahan kasus aktif di Jatim sebanyak 24 pasien. Situasi Covid-19 di Jatim sangat terkendali. Tingkat Inflasi di Februari 2023 mencapai 6,47% (y-on-y), 0,46% (y-t-d), dan 0,10% (m-to-m).
Pada Februari 2023 (m-to-m), dari 11 kelompok pengeluaran, 5 diantaranya mengalami Inflasi dan 6 Deflasi. Kelompok Pengeluaran yang mengalami Inflasi tertinggi, yaitu Makanan, Minuman dan Tembakau 0,52%. Sedang yang mengalami Deflasi tertinggi Pakaian dan Alas Kaki (-0,39%).
“Berdasarkan klasifikasi komponen Bahan Makanan (BaMa) mengalami inflasi 0,34% (m-t-m), 7,32% (y-on-y), 1,09% (y-t-d). Sedangkan komponen Energi mengalami inflasi 0,00% (m-t-m)
dan16,78% (y-on-y), namun mengalami deflasi -0,92% (y-t-d),” ujar Taukhid.
Secara umum, Dijelaskannya, tingkat Inflasi Jatim pada Februari 2023 berada diatas inflasi nasional mencapai 6,47% (y-on-y) dan tertinggi di Pulau Jawa.
PDRB Jatim pada Triwulan IV-2022 mencapai Rp 2,730,91triliun Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB). Sedangkan
PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp1.757,82 triliun. Perekonomian Jatim Triwulan IV
dibanding Triwulan III-2022 secara q-to-q mengalami kontraksi -0,71%, secara y-on-y tumbuh 4,76% dan secara kumulatif c-to-c tumbuh 5,34%.
“Atas capaian itu, perekonomian Jatim
kuartal IV-2022 memberi kontribusi ke perekonomian di Pulau Jawa 25,25%, terbesar ke 2 setelah DKI,” ujarnya.
Neraca Perdagangan (NP) Jatim di Februari 2023 mengalami defisit US$0,23 miliar (sektor migas defisit
US$0,37 M & Non Migas surplus US$0,14 M). NP Jatim selalu defisit pada sektor migas, namun untuk sektor
non migas pada Februari ini mengalami surplus pertama kali dalam 12 bulan terakhir.
Untuk nilai Impor mencapai US$1,88 miliar atau turun 14,60% (m-to-m) dan 19,47% (y-o-y). Impor masih didominasi bahan baku/penolong (73,13%). Berdasarkan komoditas, impor didominasi sektor migas (industri bahan bakar) 13,50% terutama diimpor oleh PT Pertamina Patra Niaga.
“Nilai Ekspor bulan Februari mencapai US$1,65 miliar atau turun 3,22% (m-to-m ) dan 10,98% (y-o-y). Ekspor
Nonmigas menyumbang 95,27% dari total ekspor Februari 2023,” ucap Taukhid.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Kota Surabaya di Februari 2023 sebesar 122,5 atau turun 6,99% (m-to-m) dari Januari sebesar 131,37. IKK Kota Surabaya lebih tinggi dibanding IKK
Nasional sebesar 122,4.
Indeks Penjualan Riil (IPR) Kota Surabaya pada Februari 2023 mencapai 417,6 atau naik 0,80% (m-
to-m) dari Januari 2023 sebesar 414,3 dan naik 6,53% (y-on-y) dibanding Februari 2022 sebesar 392,0.
Indeks PMI manufaktur Indonesia Februari 2023 turun 51,2 dibanding Januari 2023 tercatat 51,3, Konsisten diatas angka 50,0 (ekpansif) sejak September 2021. Sedangkan PMI Dunia masih tercatat 50,0 (menguat dibanding bulan sebelumnya).
Perkembangan Realisasi APBN Regional & APBD Konsolidasian
Realisasi APBN Regional
Sampai 28 Februari 2023, realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp 44,54 triliun atau 16,49% dari target sebesar Rp 256,65 triliun, tumbuh 6,49% dibanding periode yang sama TAYL (y-o-y).
Realisasi penerimaan pajak mencapai Rp16,80 triliun atau 16,49% dari target. Dengan rincian penerimaan Pajak
Penghasilan 15,27%, penerimaan PPN 17,42% yang mencatatkan sebagai realisasi penerimaan tertinggi, Penerimaan PBB 1,40% dan Pajak Lainnya 14,10%.
Realisasi Penerimaan Bea dan
Cukai mencapai Rp12,66 triliun atau 8,45% yang ditopang pertumbuhan Penerimaan Cukai, Bea Keluar, dan Bea
Masuk. Realisasi PNBP Rp1,01 triliun atau 20,81%, dan secara nominal tumbuh 85,11% dibanding TAYL.
Realisasi Belanja Negara mencapai Rp15,87 triliun atau 13,01%. Atau tumbuh 1,13% atau Rp 0,170 triliun dibanding periode yang sama TAYL. Realisasi Belanja K/L mencapai Rp 3,76 triliun atau 8,51%, yang secara nominal realisasinya naik Rp 0,519 triliun atau 21,47% dibanding periode yang sama TAYL.
Realisasi TKD mencapai Rp12,10 triliun atau 15,57%, atau tumbuh negatif -5,34% atau turun Rp 0,348 triliun dibanding periode yang sama TAYL. Pertumbuhan ditopang realisasi Dana Bagi Hasil, DAU dan Dana Desa, sedangkan DAK Fisk, DAK Non Fisik, dan DIF belum terdapat realisasi hingga akhir Februari 2023.
Surplus Anggaran Regional Jatim mencapai 28,67 triliun atau 21,29% dari pagu yang dianggarkan atau tumbuh 7,03% dibanding periode yang sama TAYL, menunjukkan signifikansi kontribusi perekonomian Jatim terhadap perekonomian Nasional dan akselerasi pemulihan perekonomian Jatim.
Realisasi APBD Konsolidasian
Realisasi Pendapatan Daerah Konsolidasian sebesar Rp16,58 triliun atau 13,56% atau tumbuh negatif -6,98% (y-o-y) dibanding periode yang sama TAYL. Realisasi Pendapatan Daerah ini didominasi oleh pendapatan Transfer Pemerintah Pusat (TKD) Rp12,10 triliun atau 73,01% dari total Pendapatan Daerah.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai Rp 4,44 triliun dan Pendapatan Lainnya Rp 0,029 triliun. Sedangkan Realisasi Belanja Daerah Konsolidasian mencapai Rp 5,91 triliun atau 4,42% yang tumbuh negatif 4,09% (y-o-y) dibanding periode yang sama
TAYL yang di dominasi secara nominal oleh komponen Belanja Pegawai 55,01% dari total Belanja Daerah.
Realisasi Belanja Barang Jasa 3,70%, Realisasi Belanja Modal 0,18%, Realisasi Belanja Bunga 15,19%, Realisasi Belanja Subsidi 0,47%, Realisasi Belanja Hibah 0,41%, belanja Bansos1,74%, Realisasi Belanja tak terduga 2,34% dan Realisasi Belanja Transfer 6,93%.
Sehingga, sampai 28 Februari 2023 terdapat Surplus APBD Konsolidasian Rp10,66 triliun atau tumbuh negatif -7,89 % dibanding periode yang sama TAYL. Selanjutnya terdapat Pembiayaan Netto Daerah Rp 2,93 triliun yang menghasilkan Akumulasi SiLPA Rp13,60 triliun.
Perkembangan Kredit Program di Jatim
Sampai 28 Februari 2023, realisasi penyaluran kredit program mencapai Rp 0,79 triliun kepada 25.474 debitur yang terdiri dari penyaluran KUR Rp 0,73 triliun kepada 9.029 debitur, UMi Rp 0,06 triliun kepada 16.445 debitur.
Penyaluran KUR hingga 28 Februari 2023 tumbuh negatif 96,42% (debitur) dan 92,75% (nominal) dari capaian sepanjang 28 Februari 2022, dan penyaluran UMi tumbuh negatif 21,60% (debitur) dan 15,92% (nominal).











