SURABAYA | BIDIK.NEWS – Doddy Zulverdi, Kepala Bank Indonesia (BI) Jatim memaparkan perkembangan ekonomi terkini dan fokus kebijakan BI berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode Mei 2023.
Dimana perkembangan ekonomi global tahun 2023 terpantau masih belum ideal dan diprakirakan tumbuh lebih rendah dibanding 2022.
Hal karena berbagai tantangan yang dihadapi, antara lain pelemahan transaksi perdagangan internasional sebagai dampak konflik geopolitik Rusia-Ukraina. Gangguan rantai pasok dunia. Kebijakan proteksionisme di berbagai negara. Serta gejolak perbankan global terutama di AS dan Eropa yang mengganggu stabilitas sistem keuangan.
“Meski dihadapkan berbagai tantangan, patut disyukuri tidak sampai terjadi resesi global. Saat ini masih terdapat ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik disertai upaya memitigasi risiko perlambatan ekonomi global,” ujar Doddy saat Bincang Bareng Media (BBM) bersama media Pokja BI di kantor BI Jatim, Selasa (6/6/2023).
Ruang optimisme itu, lanjutnya, sejalan dengan momentum rebound perekonomian Tiongkok yang kembali dibuka setelah pandemi Covid-19, serta
melandainya tekanan inflasi global.
Di tengah masih tingginya ketidakpastian global, pemulihan ekonomi nasional pada triwulan I/2023
terus berlanjut.
Ekonomi Indonesia pada triwulan I/2023 tumbuh 5,03% (yoy), membaik dibanding triwulan IV/2022 (5,01%) terutama ditopang oleh perbaikan konsumsi domestik. Tekanan inflasi IHK nasional juga menunjukkan tren penurunan dari 5,51% (yoy) pada tahun 2022 menjadi 4,97% (yoy) pada triwulan I/2023 serta 4,33% (yoy) pada April 2023 dan 4,00% (yoy) pada Mei 2023.
“Kembalinya inflasi domestik pada rentang sasaran inflasi nasional (4,00%, yoy) pada periode Mei 2023, memberi ruang bagi BI turut mendorong pertumbuhan ekonomi,” tambah Doddy.
Hal itu didukung dengan membaiknya beberapa indikator perekonomian domestik seperti menguatnya cadangan devisa, terjaganya surplus neraca perdagangan, relatif stabilnya nilai tukar Rupiah, serta masih tumbuh positifnya kinerja intermediasi perbankan di Indonesia.
Mempertimbangkan kondisi perekonomian itu, maka Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 24-25 Mei 2023 memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga kebijakan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,75%.
Fokus kebijakan BI diantaranya, memperkuat operasi moneter
untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter. Memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah terutama imported inflation melalui intervensi di pasar valas. Melanjutkan twist operation melalui penjualan/pembelian SBN di pasar sekunder.
Melanjutkan kebijakan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK) dengan pendalaman pada respons suku bunga Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan terhadap suku bunga kebijakan. Perluasan QRIS. Serta memperkuat kerja sama internasional dengan bank sentral dan otoritas negara mitra lainnya.
Searah dengan perekonomian nasional, perekonomian Jatim pada triwulan I/2023 terpantau melanjutkan perbaikan dengan tumbuh 4,95% (yoy) yang didorong oleh menguatnya konsumsi (baik belanja Pemerintah maupun Rumah Tangga) dan meningkatnya kinerja sektor perdagangan.
Namun, perlambatan investasi serta menurunnya kinerja ekspor menahan pertumbuhan ekonomi Jatim untuk tumbuh lebih tinggi lagi. Karena itu, penting untuk menjaga konsumsi masyarakat serta mendorong kolaborasi fiskal pusat dan daerah dalam mendukung perbaikan kinerja investasi.
“Pada triwulan II/2023, kinerja ekonomi Jatim terindikasi melanjutkan perbaikan sejalan dengan potensi keyakinan konsumen yang membaik, Prompt Manufacturing Index (PMI) yang masih tinggi di atas 50% (ekspansi), tren penjualan eceran yang positif, prognosa produksi tanaman pangan dan
hortikultura yang meningkat, serta peningkatan kinerja mayoritas kegiatan usaha sektor prioritas,” jelas Doddy.
Perbaikan ekonomi disertai dengan laju inflasi gabungan kota/kabupaten pada Mei yang kembali turun menjadi 5,02% (yoy) dibanding April 2023 (5,35%, yoy). Penurunan ini diharapkan dapat berlanjut dan mencapai rentang sasaran inflasi nasional, meski terdapat tantangan jelang HBKN Idul Adha. Sinergi dan kolaborasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jatim diharapkan dapat mengendalikan inflasi jelang Idul Adha 2023.
Doddy juga menyampaikan kinerja intermediasi perbankan Jatim pada April 2023 menunjukkan perlambatan dibanding triwulan sebelumnya, terutama pada kredit kelompok korporasi dan rumah tangga. Terkait perkembangan sistem pembayaran, BI Jatim terus mendorong digitalisasi sistem pembayaran, diantaranya melalui transaksi e-commerce dan uang elektronik yang tercatat tumbuh positif.
Minat penggunaan transaksi non-tunai masyarakat Jatim juga meningkat sejalan dengan perkembangan QRIS yang menggembirakan. Per April 2023, Jatin berhasil memenuhi 28,01% dan 43,6% dari target pengguna dan volume transaksi QRIS di 2023.
Untuk dapat mencapai target sampai akhir 2023, BI akan terus mengintensifkan edukasi dan literasi kepada masyarakat, termasuk inovasi fitur pada QRIS seperti Tarik Transfer dan Setor, serta QRIS lintas negara yang telah diterapkan dengan Thailand dan Malaysia.
Pada 2023, kinerja ekonomi Jatim diprakirakan akan tumbuh positif pada kisaran 4,6 – 5,4% (yoy) disertai laju inflasi IHK yang yang terus menurun ke dalam rentang sasaran. Faktor yang menjadi pendorong terkendalinya inflasi di 2023 adalah Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan penyakit tanaman yang terkendali sehingga mengurangi risiko gagal panen.
Optimalisasi penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD) pada hewan ternak, sehingga lebih terkendali, dampak kenaikan BBM pada September 2022 yang telah selesai, dan harga komoditas global, khususnya energi yang menunjukkan tren penurunan.
“Meski kinerja ekonomi termoderasi, tetapi masih terdapat ruang untuk tumbuh dengan menjaga konsumsi rumah tangga, mendorong investasi, dan mengoptimalkan industri pengolahan,” imbuhnya.
Doddy Zulverdi menutup paparannya melalui penyampaian rekomendasi 4 strategi kunci untuk tetap menjaga perekonomian Jatim. Yakni, penguatan peran Jatim sebagai ekspor industri manufaktur melalui percepatan hilirisasi agroindustri, peningkatan utilisasi
kawasan industri, peningkatan ekspor, dan peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan.
Memperkuat peran Jatim sebagai lumbung pangan nusantara melalui
penguatan infrastruktur pangan, pertanian berbasis teknologi, dan kerja sama antar daerah melalui GNPIP (Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan) serta perluasan pembiayaan rantai pasok.
Penguatan optimalisasi proses digitalisasi ekonomi Jatim meliputi optimalisasi penggunaan QRIS, lokapasar dan perdagangan elektronik untuk UMKM, Elektronifikasi Transaksi Pemerintah (ETP), dan penguatan infrastruktur digital yang lebih merata.
Serta meningkatkan inklusivitas ekonomi Jatim melalui pariwisata, UMKM, dan ekonomi syariah.











