SURABAYA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membuka perdagangan pasar modal di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (4/1/2021). Airlangga optimis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menyentuh level 6.800 diakhir 2021. “Mengingat di 22 Desember 2020 (IHSG) sempat menyentuh 6.165,” ujarnya.
Airlangga juga optimis BEI akan mencapai target 30 perusahaan yang melakukan penawaran perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) tahun ini. “Kami harap jumlah dananya bisa cukup signifikan, apalagi SBN (Surat Berharga Negara) sudah sangat rendah dengan yield 2,64%, ini bisa mendorong lebih banyak IPO untuk pasar modal mencari dana,” katanya
Dia juga optimis, pertumbuhan ekonomi global dan nasional di 2021 akan membaik. Ekonomi global diprediksi tumbuh di kisaran 4,2% – 5,2%, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,5% – 5 %.
IHSG bergerak menguat pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Pada pra-pembukaan perdagangan, IHSG naik 18,75 poin atau 0,31% ke level 5.997,83. Tak bertahan lama, pada pembukaan perdagangan pukul 09.00, IHSG berbalik melemah dengan turun 29,08 poin atau 0,49% ke level 6.008,15. Indeks saham LQ45 hijau 0,66% ke posisi 939,88. Sebagian besar indeks acuan bergerak di zona hijau.
Di awal perdagangan ini, IHSG berada di posisi tertinggi pada level 6.017,89. Sedangkan terendah 5.997,69. Sebanyak 219 saham melemah sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. Kemudian 83 saham melemah dan 181 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan saham normal 58.058 kali dengan volume perdagangan 1,4 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 881,8 miliar. Tercatat, investor asing jual saham di pasar regular mencapai Rp 18 miliar. Sedangkan nilai tukar rupiah berada di 14.020 per dolar AS.
Dari 10 sektor pembentuk IHSG, seluruhnya berada di zona hijau. Penguatan dipimpin sektor perkabunan yang melesat 2,20%. Disusul sektor barang konsumsi naik 0,93% dan sektor pertambangan naik 0,79%.
OJK : Pasar Modal RI Lebih Baik dari Negara Tetangga.
Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, IHSG telah menunjukkan penguatan dan sempat rebound di atas level 6.000. IHSG mencapai level tertinggi di 6.165,6 tanggal 21 Desember 2020 dan ditutup di level 5.979,07 atau terkontraksi 5,09% ytd.
Wimboh mengklaim ini lebih baik dibanding bursa negara- negara tetangga seperti Singapura, Filipina dan Thailand. Demikian juga dengan pasar SBN yang terus mengalami penguatan dengan yield turun 105 bps secara year-to-date (benchmark SBN 1 tahun 3,64%).
“Sinyal pemulihan itu momentum bagi bangkitnya industri pasar modal kita, baik dari sisi investor yang disediakan alternatif instrumen investasi di pasar modal dengan return yang lebih tinggi dari deposito, dan dari sisi issuer juga disediakan alternatif pembiayaan dari pasar modal dengan yield yang relatif rendah dibanding kredit perbankan,” bebernya.
Lalu, sinergi kebijakan yang extraordinary, pre-emptive dan akomodatif telah dikeluarkan untuk meredam pemburukan lebih lanjut dari dampak pandemi ini. “Kebijakan Fiskal yang akomodatif telah dikeluarkan Pemerintah dalam penanganan pandemi covid-19, penyediaan bansos bagi masyarakat dan juga stimulus percepatan pemulihan ekonomi nasional,” pungkas Wimboh Santoso.











