SURABAYA l bidik.news — Tingginya angka kenakalan dan perilaku brutal di kalangan remaja belakangan ini mendapat sorotan serius dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Rasiyo, M.Si.
Untuk mengatasi krisis moral tersebut, Anggota Komisi E DPRD Jatim ini menekankan pentingnya sinergi pengawasan antara pihak sekolah dan keluarga, serta mendesak adanya penguatan pendidikan agama di sekolah.
Mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur tersebut menyampaikan bahwa pihak sekolah, khususnya wali kelas, memiliki peran sentral sebagai garda terdepan pendidikan.
“Ini harus menjadi perhatian dari masing-masing sekolah, utamanya peran dari wali kelas. Wali kelas itu adalah wakil dari orang tua di sekolah, sehingga harapan saya anak-anak itu benar-benar dicek kehadirannya. Kalau anak tidak masuk, wali kelas yang paling pertama harus tahu,” ujar Anggot Fraksi Partai Demokrat DPRD Jatim pada Minggu ( 13/9/2026 ).
Selain dari pihak sekolah, ia juga menegaskan pentingnya peran aktif dari wali murid di rumah. Orang tua dituntut untuk memberikan perhatian penuh kepada anak-anaknya. Dr. Rasiyo mencontohkan, apabila anak pulang terlambat, orang tua harus peka dan melakukan pengawasan.
Ia meyakini bahwa jika komunikasi dan peran antara sekolah dan wali murid berjalan dengan baik, anak-anak akan terawasi secara maksimal.
Pengawasan ketat ini dinilai semakin krusial mengingat derasnya arus informasi dari media sosial. Dr. Rasiyo menyoroti bahwa platform media sosial seperti TikTok kerap memuat konten-konten yang kurang baik dan berpotensi merusak moral anak-anak jika tidak ada pendampingan.
Menanggapi anggapan bahwa perilaku brutal remaja disebabkan oleh hilangnya mata pelajaran moral Pancasila, Dr. Rasiyo meluruskan pandangan tersebut. Menurutnya, nilai-nilai pendidikan Pancasila sejatinya sudah terintegrasi di dalam kurikulum yang berlaku saat ini. Langkah paling efektif saat ini justru dengan menambah jam dan kualitas pendidikan agama.
“Pendidikan Pancasila itu sudah ada dalam kurikulum. Makanya, yang perlu ditambah adalah pendidikan agamanya. Seperti yang kami terapkan di sekolah kami sendiri, ada tambahan dua jam pelajaran khusus untuk pendidikan agama. Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa harus menjadi perhatian tersendiri,” tegasnya.
Sebagai penutup, Dr. Rasiyo meyakini bahwa pembekalan karakter spiritual adalah kunci utama membentengi generasi muda. “Intinya pendidikan agama harus diperkuat. Insya Allah kalau itu dilakukan, karakter dan moral anak-anak akan menjadi lebih baik,” tutupnya.( Rofik )












