BANGKALAN l bidik.news – Kelangkaan pupuk subsidi masih dirasakan oleh petani di Madura. Akibatnya petani kesulitan untuk bercocok tanam .
Ketua Fraksi NasDem DPRD Jawa Timur, Mohamad Nasih Aschal mengaku dari beberapa titik yang didatanginya saat reses, semua menyampaikan persoalan kelangkaan pupuk. Artinya hingga saat ini masyarakat terus menghadapi kesulitan mendapatkan pupuk.
“Ini saya perlu mendapatkan respon dari pemerintah terutama Pemprov Jatim. Agar kemudian masyarakat kesulitan mengakses pupuk, membuat warga abai tidak peduli lagi pemerintah, pembangunan pun bisa berhenti atau terkendala,” katanya, usai serap aspirasi di Burneh, Bangkalan, Madura pada Senen ( 24/2/2025 ).
Politisi asal Partai NasDem ini mendorong pemerintah agar bisa menyelesaikan persoalan kelangkaan pupuk yang terus menghantui masyarakat. Ia menilai kelangkaan pupuk bisa teratasi, ketika pemerintah benar-benar serius mengatasinya dengan mempertemukan banyak pemegang kebijakan. Mulai di tingkat provinsi, kabupaten hingga masyarakat petani.
“Apakah kebijakan yang di buat Provinsi bisa dipertemukan di daerah kemudian melibatkan secara langsung masyarakat. Saya kira banyak dilakukan untuk menyelesaikan persoalan pupuk,” ucapnya.
Cicit Syaikhona Kholil Bangkalan itu meminta agar pemerintah mau melihat keresahan ini karena sudah sangat kuat dirasakan di tengah masyarakat. Jika tidak segera diselesaikan, akan terjadi krisis pangan karena gagal panen.
“Jadi kemudian ini tidak segera diselesaikan, kita khawatir masyarakat tidak makan. Karena dengan tidak diberi pupuk, maka gagal panen. Kalau sudah gagal panen masyarakat tidak makan,” ujar pria yang akrab dipanggil Ra Nasih itu.
Ra Nasih menyebut, jika program pemerintah benar-benar serius mewujudkan ketahanan pangan. Persoalan kelangkaan pupuk terjadi karena pendistribusian yang tidak efektif dan tidak tepat sasaran, harus dicari akar permasalahan dan solusinya. Hal ini agar masalah yang lama terjadi ini tidak berlarut-larut dan melebar.
Pemerintah harus pertemukan masyarakat petani juga terdiri dari banyak kelompok tani. Mereka harus terus diperhatikan, dan dilibatkan dalam melahirkan solusi bersama pemerintah.
“Ada persoalan dibawah yang kalau itu kemudian bisa diambil Kebijakan secara tegas, maka persoalan kecil tidak berlarut-larut,” pungkasnya.( Rofik )











