BIDIK NEWS | SURABAYA- Penolakan perubahan nama Jalan Dinoyo dan Gunungsari terus berlanjut. Terbaru, papar tata kota Johan Silas secara tegas menolak rencana perubahan nama apapun alasannya. Pakar dari ITS ini menegaskan, penolakan itu dilatar belakangi oleh faktor sejarah. “Tidak setuju karena perubahan nama jalan ini akan berdampak pada sejarah panjang jalan itu,” katanya saat diundang oleh Pansus Raperda Perubahan Nama jalan di DPRD Surabaya, Kamis (26/7).
Menurutnya, perubahan nama jalan total atau sebagian tetap tidak setuju. Sebab, faktor historis tidak akan mengenal sebagian atau bahkan seluruhnya. Perubahan atau penambahan tetap akan menciderai sejarah , “Kalau memang rekonsiliasi budaya, harusnya yang terkait langsung itu di Mojokerto bukan di Surabaya waktu Perang Bubat. Belanda saja dari dulu tidak berani mengubah nama jalan itu,” tambahnya. Terkait hal itu, Ketua Pansus Raperda Perubahan Nama Jalan Fatchul Muid memastikan, polemik yang terjadi itu akan terus diakomodir. Pansus selalu mendengarkan masukan dari semua pihak. ,” Karena kami harus mengakomodir seluruh pendapat yang masuk untuk kemudian didiskusikan secara internal,” ujarnya .
Sebagai tindak lanjut, politisi Nasdem ini memastikan dalam waktu dekat proses penggodokan nama jalan akan tuntas. “Nanti hari Senin lah akan kami rapatkan secara internal. Kalau tidak bisa mufakat, ya akan kami votingkan,” pungkas Muid.
Sebelumnya, warga terdampak yang bertempat tinggal di Jalan Dinoyo dan Gunungsari secara tegas menolak adanya perubahan nama jalan itu ketika melakukan dengar pendapat dengan pihak pansus. Baik diubah sebagian maupun keseluruhan.
Terkait janji Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim yang siap untuk memudahkan segala administrasi dokumen terkait berubahnya nama jalan, warga pun mengaku tidak percaya dengan janji itu karena belum ada sosialisasi apapun.
Pendapat Johan Silas senada dengan pernyataan anggota DPRD Surabaya Vinsensius Awey yang sebelumnya bersikukuh menolak rencana yang dihembuskan pertama kali oleh Gubernur Jawa Timur. Politisi Nasdem ini berdalih perubahan nama akan menghilangkan sejarah.
Menurutnya, kendati hanya mengambil beberapa panjang jalan saja tetap akan merubah tatanan historikal yang ada. Catatan sejarah itu menandakan keseluruhan panjangnya jalan ,
“Ketika dipenggal hanya200 m pun itu namanya telah memenggal nilai historikal dari keberadaan jalan itu sendiri,” tegasnya.
Awey menerangkan, nama jalan itu milik publik karena diawali dari konsensus publik. Tidak ada yg diciptakan oleh negara, bahkan jalan Dinoyo dan jalan Gunugsari sudah sejak lama ada sebelum pemerintahan kota maupun pemprov terbentuk, “Oleh karena itu suara publik berhak ikut menentukan. Kalau warga Dinoyo dan Gunungsari sudah menolaknya, hormati dan hargailah. Jangan terus menerus menunjukan arogansi kekuasaan. Kekuasaan yang dimiliki untuk memberikan tempat yang baik bagi rakyat dan bukannya menyakiti,” tandasnya. (Topan)











