SURABAYA – Industri perbankan Indonesia menghadapi tantangan perekonomian ke depan ditengah ketidakpastian ekonomi global karena pandemi Covid-19. Kepala OJK KR4 Jatim, Bambang Mukti Riyadi menyampaikan, kebijakan pemerintah melakukan pembatasan sosial, termasuk menutup pusat perbelanjaan dan menghentikan operasional beberapa moda transportasi. Serta sikap masyarakat mengurangi kegiatan di luar rumah, mengakibatkan konsumsi masyarakat turun tajam.
“Berhentinya kegiatan bisnis tidak hanya menurunkan pendapatan masyarakat, tapi juga meningkatkan jumlah pengangguran dan angka kemiskinan. Pandemi mengakibatkan investasi dan kegiatan produksi melambat, baik akibat turunnya permintaan, berkurangnya partisipasi tenaga kerja, dan terganggunya supply chain ” kata Bambang disela acara Evaluasi Kinerja BPR/BPRS Semester II/2020 secara virtual baru-baru ini.
Proses pemulihan ekonomi, lanjutnya, mulai terjadi pada semester 2 setelah tingkat kepercayaan investor meningkat sejalan bergeraknya kembali perekonomian pasca pelonggaran pembatasan sosial.
“Kondisi ini diharapkan mampu meningkatkan optimisme. khususnya bagi industri BPR/BPRS untuk tetap tumbuh dan berkinerja baik, tercermin dari pertumbuhan kredit 2,22% (yoy) lebih tinggi dibanding perbankan Jatim dan Nasional,” ujarnya.
Sementara Direktur Pengawasan LJK 1, Triyoga Laksito menambahkan, secara umum BPR/BPRS Jatim dapat bertahan. Terlihat kondisi likuiditas yang cukup dan penghimpunan DPK serta penyaluran kredit yang masih menunjukan pertumbuhan positif, masing-masing 3,42% dan 2,22%, meskipun pertumbuhannya lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
Rasio kredit atau pembiayaan bermasalah yang ditunjukan dari rasio NPL atau NPF, meningkat dari rasio tahun sebelumnya, yaitu dari 8,13% menjadi 9,45%. “Dengan kebijakan restrukturisasi kredit terdampak Covid-19, BPR/BPRS diharapkan secara tepat mengidentifikasi kredit yang layak untuk diberikan restrukturisasi,” ungkapnya.
Dijelaskan, sektor ekonomi yang dapat bertahan pada kondisi pandemi adalah sektor ekonomi kesehatan, makanan dan minuman serta perdagangan berbasis TI.
“Selain itu, optimisme terjadinya pemulihan ekonomi di sektor riil juga terlihat adanya modifikasi pola pemasaran produk seperti pemasaran door to door dengan promosi yang menarik,” jelasnya.
Menurut OJK, Isu strategis lainnya yang dihadapi BPR/BPRS, yaitu kompetisi dengan perusahaan keuangan lainnya seperti Fintech, Lembaga Keuangan Mikro (LKM), serta layanan LAKU PANDAI. Sehingga BPR/BPRS harus selalu tangkas/cekatan, adaptif dan kreatif menemukan solusi dan peluang yang ada di balik tantangan tersebut.
“Agar dapat bersaing, OJK mendorong BPR/BPRS berkolaborasi dengan Fintech peer to peer landing, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian. Regulasi dan panduan dalam rangka kolaborasi segera akan diterbitkan. Sehingga BPR/BPRS mempersiapkan secara internal,” ujarnya.











