SURABAYA | bidik.news – Kompas Institute dan Kedutaan Besar (Kedubes) Australia di Indonesia menggelar workshop untuk jurnalis di Hotel Santika Premiere Gubeng, Senin (24/6/2024).
Workshop diikuti puluhan jurnalis, baik media cetak, online, televisi dan radio. Adapun tema kegiatan yakni Strategi Menulis Isu-isu Ekonomi di Tengah Dunia yang Berubah.
Workshop ini untuk memberikan pemahaman mendalam kepada para jurnalis tentang lanskap ekonomi masa depan, teknologi digital, perubahan iklim, serta kerjasama ekonomi regional, khususnya terkait Australia’s Southeast Asia Economic Strategy to 2040.
Hadir sebagai narasumber, yakni Perwakilan Kedubes Australia di Indonesia yang memaparkan Ekonomi dan Perubahan Geopolitik Kawasan 2040, Economic Analyst Unair Gigih Prihantono SE, MSE yang mengulas soal Ekonomi dan Perubahan Iklim, CEO Circlo Brian Marshal yang mengulas Ekonomi dan Teknologi Digital dan Kepala Desk Ekonomi Harian Kompas FX Laksana Agung yang membahas tentang strategi menulis isu-isu ekonomi (di tengah perubahan) di media.
Dalam paparannya, Gigih Prihantono mengulas isu perubahan iklim merupakan ancaman serius bagi perekonomian nasional dan global, baik dalam jangka waktu pendek maupun jangka panjang. Hal itu disebabkan besarnya risiko yang dihadapi jika tidak dilakukan tindakan mitigasi.
“Emisi karbon juga salah satu faktor penyuplai adanya perubahan iklim. Saat ini emisi karbon menjadi penyumbang terjadinya perubahan iklim bersamaan dengan emisi gas rumah kaca dan lainnya,” kata dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair ini.
Menyoroti tentang perubahan iklim di dunia, terdapat berbagai respon baik di tingkat nasional maupun di tingkat global dengan tujuan yang sama, yakni menjalankan misi untuk melakukan pengurangan emisi karbon. Pengurangan emisi karbon di tingkat di dunia maupun dalam skala nasional dapat dilakukan dengan membuat kerjasama dan komitmen bersama.
Saat ini gejala perubahan iklim juga sudah dirasakan Indonesia, di antaranya mencairnya gunung es di Puncak Jaya, Papua, perubahan pola curah hujan, suhu Indonesia yang semakin meningkat setiap harinya, kenaikan permukaan air laut yang semuanya itu berdampak pada manusia dan lingkungan. “Kita harus memperlambat dampak perubahan iklim itu secara terus menerus,” ucapnya.
Bukti krisis iklim lainnya, katanya adalah banyak negara yang terancam kekeringan dalam beberapa dekade ke depan. Karena itu penting untuk menjaga ketahanan air. Ia mengatakan, jika ketahanan air melemah maka akan berdampak serius pada banyak hal, di antaranya ketahanan pangan dan ketahanan energi Indonesia.
“Sektor pertanian yang paling berdampak adanya perubahan iklim. Produksi pertanian turun, imbasnya tingkat konsumsi masyarakat juga turun. Kelaparan akan menjadi masalah, kalau sudah urusan perut biasanya rawan konflik dan kriminal,” tandasnya.
Sementara itu Brian Marshal menjelaskan, industri e-commerce Indonesia tengah dalam kondisi pertumbuhan pesat seiring dengan perkembangan teknologi digital . Dengan dukungan teknologi dan internet, konsumen saat ini makin menyukai transaksi online. Meskipun diakuinya penetrasi kue transaksi online saat ini tidak setinggi saat terjadi pandemi Covid-19 lalu.
Lansekap ekonomi digital nasional maupun global yang berkembang pesat dari tahun ke tahun mendorong SIRCLO untuk terus berinovasi dan mempertajam fokus sebagai omnichannel commerce enabler yang melayani penjualan melalui kanal online maupun offline.
“Masih banyak pemain e-commerce lokal memiliki potensi tumbuh pesat apabila kita dukung dengan memaksimalkan potensi dan ekspansi bisnis mereka secara digital,” katanya.
Karena e-commerce erat kaitannya dengan UMKM, SIRCLO juga aktif mendorong UMKM naik level. Ada beberapa jenis UMKM yang dibantu SIRCLO yang sudah 11 tahun berkiprah membantu brand berjualan secara online dan offline. Di antaranya UMKM yang menciptakan produk dan merek sendiri seperti memproduksi pakaian, sepatu, dan makanan.
Selanjutnya ibu bekerja dan ibu rumah tangga yang ingin mempunyai penghasilan lebih. Terakhir adalah pemilik toko atau warung yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Apa sebenarnya yang kami bantu adalah menyediakan akses ke alat, sehingga mereka memiliki alat yang mudah dipahami yang akan mengangkat mereka ke level pemain besar. Misalnya, bagi UKM yang memiliki produk sendiri, kami memiliki alat di toko SIRCLO yang memungkinkan mereka memasarkan produknya di berbagai marketplace, termasuk website kami sendiri, hanya dengan membayar Rp 100.000 per bulan,” ujarnya.
“Ini juga merupakan alat yang sama yang kami gunakan untuk perusahaan yang membuka toko di berbagai pasar. Jadi pada dasarnya kami menawarkan fitur teknologi sesuai yang mereka butuhkan. Kebutuhan teknologi kelas UMKM tentu beda dengan klien-klien besar yang kami tangani misalnya Unilever yang transaksi onlinenya bisa mencapai jutaan per bulan,” tambahnya.
Sementara itu, FX Laksana Agung berbagi pengalaman terkait liputan ekonomi. Termasuk membahas perkembangan teknologi digital yang turut mempengaruhi kerja-kerja jurnalis. Ia bilang teknologi digital akan meningkatkan efisiensi dan produktivitas berbagai sektor ekonomi. Banyak pekerjaan konvensional akan tergantikan oleh teknologi, sementara pekerjaan baru di sektor teknologi akan bermunculan.
Ia mengingatkan agar jurnalis untuk tetap memperhatikan beberapa aspek seiring perkembangan teknologi. Di antaranya menjaga etika, memperhatikan kebijakan redaksi medianya masing-masing, memperhatikan keandalan dan keakuratan informasi, meningkatkan keterampilan digital, adaptif terhadap perubahan, serta meningkatkan pengetahuan ekonomi yang terus dinamis.











