SAMPANG – Kelangkaan pupuk di Desa Bencelok, Kec. Jrengik, Kab. Sampang, Madura perlu mendapat perhatian dari Pemkab setempat. Karena sumber kehidupan 95% masyarakat Sampang adalah dari sektor pertanian dan 5% pedagangan, serta sisanya dari sektor wiraswasta, PNS dan TNI Polri.
Sedangkan lumbung padi yang paling besar di Pemkab Sampang adalah di Kec. Jrengik. Lantaran kelangkaan pupuk, berkat usaha Kades setempat, sekarang ini masyarakat tani di Kec. Jrengik menggunakan bibit padi organik eco farming.
Luas lahan pertanian di Desa Bancelok mencapai ratusan hektar yang tercatat di buku Desa. Sehingga Kades Bencelok Moh. Taufik bekerja untuk kemakmuran mayarakatnya, bukan cuma cukup dimakan saja, melainkan juga meningkatkan perekonomiannya dengan hasil pertaniannya.
“Kami harus mempunyai program kedepan untuk melakukan penanaman bibit organik untuk menyikapi kelangkaan pupuk di desa ini. Dan semua yang berhubungan dengan bahan Kimia tidak saya pergunakan lagi,” kata Moh. Taufik, Jumat (22/1/2021).
Moh. Taufik mengaku sangat antusias bekerjasama dengan tim se Madura menggunakan pupuk organik eco farmingi. “Pada tahun 2020 lalu, saya gunakan penanaman bibit padi Empare Madura, padi hitam dan padi merah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat tani, kususnya di Desa Bencelok,” ungkapnya.
“Program saya 4 bulan atau 5 bulan kedepan sudah ada bungkus per kilo beras organik. Dan saya sudah mempunyai 8 kelompok tani dan kartu tani yang kita berikan kepada kelompok tani. Tapi ternyata tidak ada gunanya. Karena kios yang ada di Kec. Jrengik ini tidak memadai untuk kebutuhan petani,” tegasnya.
Karena itu, tahun ini Dia mencoba menanam di tanah kas Desa Bancelok sebagai contoh kepada masyarakat agar menanam padi organik dengan menggunakan pupuk organik
“Saya akan kelola sendiri dengan menggunakan pupuk eco farming di uas lahan 1 hektar sawah. Biayanya cuman Rp 250 ribu saja dan ini perlu saya buktikan ke masyarakat jika dibanding menggunakan pupuk kimia yang memakan dana hingga Rp 500 – 600 ribu,” katanya.
Sedangkan bibit organik ini dipakai di tanah seluas 1 hektar lahan dari 25 kg. Dan hasilnya bisa melebihi 10 ton dengan menggunakan pupuk biasa. 5 bulan kedepan ini sebagai contoh sudah ada yang akan dipanen. “Jadi petani di Desa Bancelok ini kalau sukses maka semua kelompok tani harus menggunakan pupuk organik,” pesannya.
“Harapan saya sebagai Kades Bengcelok kepada Pemkab bahkan propinsi dan semua dinas terkait agar dilakukan pembersihan rumput pada saluran menghalangi jalannya air. Perlu normalisasi yang dari waduk Klampes, sehingga jika airnya mengalir ke Kec. Jrengik tidak ada lagi sodetan,” pungkasnya.(samsul)











