GRESIK – Kurang tegasnya Kejaksaan Negeri (Kejari) Gresik saat melakukan pemeriksaan perkara korupsi potosan insentif pegawai BPPKAD Gresik mendapat sorotan dari Lembaga Swadaya Masyarakat Forum Kota (LSM Forkot) Gresik.
Hari ini, puluhan anggota LSM Forkot datang ke kantor Kejari Gresik mempertanyakan kasus yang menjerat tersangka Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gresik, Andhy Hendro Wijaya, Senin (25/11/2019).
LSM Forkot datang tidak melakukan unjuk rasa, akan tetapi mereka melakukan audensi. Kedatangannya lansung disambut dan dipersilahkan masuk di ruang penyidik Pidsus guna diberikan penjelasan.
Dalam audensi, LSM Forkot mempertanyakan penanganan perkara yang menyeret tersangka Sekda Gresik Andhy Hendro Wijaya terkesan lamban dan tidak serius.
“Kami kesini hanya menanyakan kepada Kejaksaan, kenapa ada perbedaan antara kasus Sekda Gresik dengan perkara korupsi lainnya. Sementara, orang petugas parkir di Alun-alun Gresik ketika melakukan perbuatan pidana langsung ditindak, sementara Sekda Gresik dibiarkan melenggang bebas,” kata Haris Shofwanul Faqih, koordinator Forkot.
Sementara, anggota Forkot Arif Ridwan (43), menyatakan jangan sampai hukum runcing ke bawah dan tumpul ke atas. “Sekarang ini, sekda Gresik seakan-akan orang paling sakti di Kabupaten Gresik, bisa bebas dari berkeliaran. Padahal, sudah ditetapkan tersangka,” kata Arif.
Sementara itu, Kasi Intel Kejari Gresik Bayu Probo Sutopo dengan Kasi Pidsus Kejari Gresik Dymas Adji Wibowo mengatakan, penanganan kasus tersangka Sekda Gresik Andhy terus berjalan. Saat ini tersangka sudah dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka.
“Dari keterangannya, kita masih mendalaminya, sebab ada keterangan baru dan kita masih mencari bukti kerugian materiil,” Ujar Bayu.
Sementara ketika LSM Forkot, mempertanyakan tersangka Sekda Gresik tidak dilakukan penahanan, Bayu menjelaskan karena tersangka ketika diperiksa kelihatan sakit dan tampak pucat dan pertimbangan lain sebagai pejabat publik. “Saat diperiksa kemarin, beliau terlihat pucat dan sakit. Selain itu, tanda tangan beliau diperlukan untuk anggaran tahun 2020. Kalau beliau tidak tanda tangan, Pemkab Gresik bisa lumpuh,” katanya.
Atas jawaban tersebut, massa LSM Forkot berjanji akan terus menanyakan progres kasus tersangka Andhy Hendro Wijaya. Setelah itu, masa meninggalkan ruangan penyidik Pidsus Kejari Gresik.
Diketahui, selama ini penyidik Kejari Gresik telah memanggil tersangka Andhy sebagai saksi sebanyak 4 kali dan 3 kali sebagai tersangka. Penyidik juga mencari beberapa kali di Kantor Pemkab Gresik dan di rumahnya Green Garden Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo Kecamatan Kebomas Gresik namun tidak ketemu.
Bahkan, dalam praperadilan yang diajukan tersangka, Hakim tidak dapat menerikan permohonan tersebut dengan frase kedudukan pemohon yang melarikan diri.
Anehnya, ketika tersangka ngantor dan datang memenuhi panggilan penyidik di kejaksaan saat diperiksa sebagai tersangka juga tidak pernah dilakukan penahanan. (him)












