SURABAYA | BIDIK – Para dewan pengamat atau dewan juri dalam ajang Festival Dalang Muda di Pekan Wayang Tahun 2017 yang digelar mulai 18- 22 April 2017 lalu di UPT Taman Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim, jalan Gentengkali Surabaya telah memilih dan menetapkan 10 penyaji Dalang Muda dan Sinden terbaik.
Adapun para dewan pengamat tersebut berasal dari ISI Surakarta dan para seniman dari Surabaya. Mereka antara lain, Dr.Suyanto .s.kar.MA, Dr. Bambang Suwarno .S.kr.M.Hum, Sukesi.MSn (ISI skata), Drs.FY Darmono Saputro (STKWS), Surono Msi dan Kukuh Seto Budi.Mm (RRI Sby).
Ke-10 penyaji terbaik Dalang Muda tersebut antara lain, Sakti Mahardika (Kota Madiun), Afrian Saputra (Kota Batu), Lenggang Pratitis (Kab. Tulungagung), Agung Budi Dewanto (Kab. Ngawi), Hendri Wicaksono (Kab.Blitar), Danang Wikan Carito (Kab.Lumajang),
Hadis Nur Wahid (Kab.Trenggalek), Jayanantya Eka Aditya (Kota Surabaya), Obi Friendhi Chandra (Kab.Nganjuk) serta Gilang Bima Nugraha (Kab.Kediri).
Sementara untuk predikat juara 1 Sinden terbaik direbut oleh Iva Sari (Kab.Madiun), juara 2 Dwi Selfie Indrawati (Kab.Tuban), juara 3 Kolin Nirwa Dewi (Kab.Nganjuk), juara harapan 1 Yenik Putri Pamungkas (Kab.Jombang), juara harapan 2 Risky Handayany (Kab.Ngawi) serta juara harapan 3 Rerik Dyah Ayu (Kab.Tulungagung).
Seperti diketahui, jumlah peserta Pekan Wayang Tahun 2017 untuk kategori Dalang Muda diikuti sebanyak 21 kabupaten/kota, Dalang Bocah diikuti 20 kabupaten/kota dan Sinden sebanyak 21 kabupaten/kota.
Seusai lomba, Drs.FY Darmono Saputro (STKWS) yang mewakili dewan juri menyayangkan soal materi lomba yang dibawakan para peserta. Menurutnya, mayoritas peserta masih memakai naskah lama, sehingga kurang ada kreativitas, khususnya sanggit ceritera. “Bahkan banyak peserta yang menjiplak naskah orang lain tanpa menyebut nama (catatan kaki) alias plagiat,” keluhnya.
Selain itu, kemampuan teknis peserta relatif belum menguasai. “Contohnya, catur (dialog antawacana) lemah, garap udonagoro/etika bahasa dan tancepan wayang. Semuanya hampir roso kemrungsung. Banyak repetisi garap catur yang di ulang-ulang,” ujar Darmono.
Tapi soal penggarapan musik pakeliran, menurut Darmono cukup baik sebagai medium bantu. “Tapi kemampuan pengrawit dan sinden perlu ditingkatkan lagi. Juga kesepakatan durasi waktu sajian belum semua peserta disiplin, banyak peserta yang molor,” katanya.
Darmono juga mengharapkan agar hajatan seperti Pekan Wayang bagi pemula ini lebih sering lagi digelar. Supaya muncul sinden dan dalang muda/remaja yang punya masa depan cerah.
Guna lebih fokus melahirkan bibit-bibit dalang dan sinden yang mumpuni. Darmono menyarankan agar lomba sinden dan pakeliran dipisah waktunya, supaya lebih menarik dan kompetitif. “Perlu adanya workshop teknis penggarapan naskah baru dan teknik pedalangan (catur, suluk, sabet, udobegoro, sastra dan vokal sindenan) minimal 2 bulan sebelum lomba. Sehingga tujuan meningkatkan seni pedalangan dan sindenan bisa terwujud,” tutur Darmono.
Kedepan, Darmono mengingatkan perlunya evaluasi dan pendampingan terhadap calon peserta lomba yang kontinyu, terarah dan terukur. (hari)



