SUMENEP | bidik.news – Setelah dari tempat wisata Somber Rajeh, Desa Rombiya Timur, Kecamatan Ganding, Sumenep, tim ekspedisi yang dimotori LPPM Universitas Wiraraja bekerjasama dengan BRIDA Sumenep itu melakukan ekspedisi ke Calina Bato di Desa Jambu, Kecamatan Lenteng (7/8/2024).
Berbeda dengan Somber Rajeh, jarak Calina Bato dengan Kota Sumekar cukup dekat, yaitu sekitar 8 kilometer dari pusat kota ke barat lewat Jalan Raya Lenteng. Lokasinya terletak di tengah kompleks persawahan di kanan jalan raya.
Meski banyak pohon jagung dan tembakau di sekelilingnya yang menutupi areal rekreasi, tapi beberapa bangunan seperti spot foto dengan atap segi tiga yang menjulang tinggi sudah terlihat dari jalan raya.
Jarak lokasi Calina Bato dari Jalan Raya Lenteng sekitar 200 meter ke utara, melewati jalan desa yang bersebelahan dengan persawahan. Tampak sejumlah pekerja sedang berjibaku dengan tanaman tembakaunya. Maklum pada saat itu, waktu masih pagi.
Bahkan mobil yang mengangkut tim harus melaju pelan karena selain jalannya kecil untuk dilalui roda empat, juga terdapat beberapa motor pekerja sawah yang diparkir di pinggir jalan.
Selain tanaman tembakau, saat tim tiba di lokasi, banyak lahan warga di sekitar Calina Bato yang ditanami jagung. Hanya saja, tanaman khas di tempat wisata yang dresmikan 16 Oktober 2023 itu adalah pepaya. Banyak tanaman pepaya yang sudah berbuah di sekitar lokasi kafe.
Calina Bato disebut kebun raya karena meski berada di areal persawahan, tapi tanaman yang ditanamnya di sekitar lokasi adalah jenis tanaman perkebunan, seperti pepaya, jagung, dan beberapa tanaman lainnya.
Namun saat tim tiba di lokasi, suasana tampak sepi dari pengunjung. Hanya terlihat dua petugas yang berada di tempat itu. Beberapa saat kemudian baru sepasang muda-mudi yang datang. Setelah memesan makanan dan minuman, mereka kemudian menuju salah satu gazebo di kompleks Calina Bato.
Selain menawarkan berbagai macam kuliner, tempat yang mengusung konsep agrowisata itu juga sebagai wadah edukasi bagi pengunjung yang ingin belajar seputar pertanian.
Basri, owner sekaligus Konseptor Calina Bato mengatakan, tempat wisatanya ramai pengunjung pada sore menjelang malam dan malam hari. “Kalau siang di tempat kami sibuk melayani COD (pesanan kuliner dengan sistem bayar di tempat),” katanya.
Pria yang juga menukangi beberapa lokasi wisata di Madura itu mengungkapkan, pihaknya masih terus berupaya untuk mengembangkan tempat wisatanya itu, baik dalam hal promosi dengan memanfaatkan media online, pengembangan lokasi, hingga pada kuliner yang akan ditawarkan. “Hanya saja kami masih terkendala dana untuk pengembangannya,” katanya.
Bagian Pengembangan Pariwisata Tim Riset Unija Irma Irawati Puspaningrum mengatakan, kedatangan timnya ke Calina Bato adalah bagian dari ekspedisinya ke sejumlah lokasi wisata pedesaan di Sumenep.
Banyak hal yang menjadi fokus perhatian tim pada tempat wisata pedesaan. Terkait dengan pengembangan wisata, pihaknya akan memotret soal pemberdayaan komunitas, partisipasi masyarakat, model kemitraan, dan peran pemerintah desa.
“Di situ kami akan melihat partisipasi publik dan model kepemimpinan deliberatif pada pengembangan pariwisata desa” jelasnya.
Selanjutnya, Tim Ekspedisi menuju Pantai Utara (Pantura) Sumenep, tepatnya ke tempat wisata Pantai Taneros di Desa Beluk Ares, Kecamatan Ambunten. Nantikan ekspedisi selanjutnya. (suf)












