SUMENEP| bidik.news –Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep kembali menorehkan babak penting dalam perjalanan sejarahnya. Sabtu malam, 12 Juli 2025, tepat pukul 20.36 WIB, Taman Bunga Sumenep menjadi saksi peluncuran resmi logo Hari Jadi (Harjad) ke-757 yang akan diperingati pada tahun 2026 mendatang.
Dengan mengusung tema “Songennep Jaja Rajja”, logo hasil rancangan kreatif Anizatus Zairah bukan sekadar lambang peringatan. Ia adalah manifestasi semangat kejayaan, refleksi nilai-nilai luhur budaya Madura, serta undangan terbuka bagi seluruh masyarakat untuk membangun Sumenep yang lebih agung, berdaya, dan bermartabat.
Bupati Sumenep, Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo, dalam pidatonya menegaskan bahwa logo dan tema tahun ini tidak lahir dari ruang kosong. “Ini adalah kristalisasi sejarah dan cita-cita,” ujarnya lantang, disambut tepuk tangan meriah ribuan warga yang memadati lokasi.
“Logo ini bukan hanya karya seni, tetapi wujud kolaborasi sejarah, identitas, dan arah masa depan Sumenep. Songennep Jaja Rajja adalah ajakan moral untuk kembali ke akar kejayaan dan bersama-sama melangkah menuju Sumenep yang unggul,” tegas Bupati Fauzi, penuh semangat dan keyakinan.
Logo tersebut memuat elemen-elemen simbolik yang sarat makna: angka 757, celurit khas Madura, Labang Mesem Keraton Sumenep, serta Burung Gosong Kaki Merah, satwa khas yang menyimbolkan keteguhan dan daya jelajah. Kesemuanya berpadu harmonis membentuk identitas visual yang kuat dan berkarakter.
Acara peluncuran berlangsung semarak, dihadiri jajaran Forkopimda, kepala OPD, camat dari seluruh penjuru, tokoh masyarakat, budayawan, serta pelaku seni dan pariwisata. Taman Bunga pun menjelma menjadi panggung kebesaran budaya Madura. Tarian tradisional, musik daul, dan pertunjukan rakyat hadir memukau, menegaskan bahwa Sumenep bukan sekadar daerah, melainkan peradaban yang terus bernapas.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Mohamad Iksan, menyampaikan apresiasi luar biasa atas inisiatif dan keberanian Pemkab Sumenep dalam menjadikan budaya sebagai pilar pembangunan.
“Pemkab Sumenep di bawah kepemimpinan Bupati Fauzi telah menunjukkan arah yang luar biasa jelas: pembangunan tidak boleh meninggalkan akar budaya. Songennep Jaja Rajja adalah cermin semangat kolektif masyarakat Sumenep yang bangga pada identitasnya,” ujar Iksan.
Ia menambahkan bahwa momentum Harjad ke-757 akan menjadi panggung partisipatif. Disbudporapar merancang perayaan yang lebih terbuka dan inklusif, dengan melibatkan pelaku budaya, komunitas muda, UMKM kreatif, hingga sektor swasta.
“Kami ingin Harjad ini menjadi bukan sekadar seremoni, tapi momen strategis untuk memperkuat branding Sumenep sebagai pusat budaya Madura yang autentik dan kompetitif. Harjad harus berdampak langsung secara sosial dan ekonomi,” tandasnya.
Dengan semangat Jaja Rajja—yang berarti kepemimpinan agung dan kejayaan yang berwibawa—Pemkab Sumenep mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersatu dan melangkah maju bersama. Bupati Fauzi pun menutup pidatonya dengan sebuah pesan penuh harapan:
“Mari kita rayakan Harjad ini bukan hanya dengan kebanggaan masa lalu, tapi dengan keberanian membangun masa depan. Dengan kolaborasi dan cinta terhadap tanah ini” pungkasnya.












