BANYUWANGI – Di hari terakhir pendaftaran Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Pilkada Banyuwangi 2020, sejumlah masyarakat Banyuwangi yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Banyuwangi Bersatu (GARABB) Dan Gelombang Millenial Nusantara (GAMAN) menggelar deklarasi ‘Tolak Politik Dinasti dan Oligarki’.
Deklarasi diawali dengan pengibaran bendera Tolak Politik Dinasti, dilanjutkan pernyataan sikap, yang berbunyi ‘Deklarasi Menolak Politik Dinasti dan Oligarki di Banyuwangi’.
“Aksi deklarasi ini bentuk keprihatinan sebagai warga Banyuwangi yang tidak ada regenerasi kepemimpinan, baik dipusat maupun daerah, termasuk di partai politik.
Dengan suburnya praktek dinasti di Banyuwangi, maka ini juga ancaman matinya demokrasi,” ujar Bondan Madani, Koordinator GAMAN.
Sementara, Bibit Hariyanto, seorang warga Kecamatan Genteng mengatakan, deklarasi ini sengaja diadakan di sebuah aula di Banjarsari, Kecamatan Glagah.
“Sebelumnya kami sudah merencanakan Deklarasi Tolak Politik Dinasti dan Oligarki akan kami gelar di depan KPUD Banyuwangi, dengan menghadirkan seluruh relawan yang terdaftar sebanyak 700 orang,” kata Bibit.
“Mengingat Banyuwangi zona merah, tentu kami juga harus mentaati dan mematuhi protokol kesehatan. Untuk itu, dalam deklarasi ini kami hanya hadirkan 30 orang mewakili korcam korcam,” tandasnya.
Ketika pandemi sudah berlalu, dan Banyuwangi aman dari COVID-19, pada saatnya nanti pihaknya juga akan kampanye tolak dinasti mengarahkan seluruh relawan.
Adapun isi deklarasi tersebut yaitu,
‘Saya bagian dari putra putri Banyuwangi yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Banyuwangi Bersatu (GARABB) dan Gelombang Millenial Nusantara (GAMAN) Menolak dan Akan Melawan’ :
1. Segala jenis praktek politik dinasti, oligari, nepotisme maupun sejenisnya.
2. Matinya demokrasi adalah bentuk kegagalan regenerasi kepemimpinan baik di tingkatan nasional maupun daerah serta kaderisasi partai partai politik.
3. Kami segenap masyarakat yang tergabung di GARABB dan GAMAN, tidak berafiliansi dengan partai politik, maupun pasangan calon bupati dan wakil bupati manapun. Kami hanya ingin demokrasi tumbuh tanpa adanya dinasti maupun oligarki.
Usai deklarasi, acara dilanjutkan orasi bergantian, teatrikal dan pembakaran keranda mayat sebagai simbol matinya demokrasi.
Deklarasi diakhiri dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Moh.Faisol yang juga Korcam Rogojampi.(nng)











