SURABAYA | bidik.news – Musik kontemporer “Rek” karya Joko Porong dan Tari Topeng Malang “Laire Nogo Tahun” oleh Padepokan Seni Topeng Asmorobangun Malang, Sabtu (9/8/2025) malam tampil sepanggung di Gedung Teater Lt. 2 Balai Budaya Surabaya.
Pertunjukan ini merupakan kerja sama manajemen ARTSUBS dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPKW) XI Jawa Timur. Serta sebagai bagian dari rangkaian pameran seni rupa kontemporer ARTSUBS 3025 di kawasan Balai Pemuda, yang berlangsung 2 Agustus – 7 September.
Seperti komposisi musik ‘Rek” adalah satu titik hasil proses kreatif komposer Joko Porong dalam menandai keberlanjutan kekaryaannya. Karya ini menjadi bagian trajectory perjalanan artistik komposer yang dimulai sejak kecil hingga hidup bersama dengan masyarakat arek di Kota Surabaya.
Sejak 2008, komposer menyelami budaya arek sebagai subkultur dengan ciri khas menjunjung nilai egaliter, yang tercipta melalui suasana akulturasi budaya. Komposer memandang nilai egaliter budaya arek mengandung sifat kesetaraan derajat untuk membangun iden@tas, memiliki sikap yang terbuka dan dinamis.

Karya musik ‘Rek’ secara khusus diciptakan dengan menggunakan objek gamelan yang kemudian dipertemukan dengan ragam budaya musik baik konvensional atau juga non-konvensional. Pembacaan kandungan nilai egaliter diterjemahkan dalam eksplorasi dan eksperimentasi karya yang mengandung suasana hikmat, semangat, dan riuh (ethes).
Gagasan tentang tempuran adalah ruang pertemuan dan pencampuran untuk menjadi berbeda secara karakteristik, este@ka, dan sistem akustik.
Di sesi berbeda, Padepokan Seni Topeng Asmorobangun menyuguhkan tari Topeng Malangan klasik. Gerak dan kostum para penari tetap setia pada pakem yang diwariskan lintas generasi, menjadikannya salah satu penampilan yang menegaskan komitmen pelestarian budaya.
Usai pertunjukan, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Jawa Timur, Endah Budi Heryani S.s.,M.M. mengaku kaget sekaligus bangga melihat animo penonton yang mayoritas dari kalangan milenial bahkan anak-anak yang begitu antusias memadati bekas gedung bioskop Mitra teater tersebut.
“Saya tidak menyangka penonton nya sebayak Ini. Ini menjadi tantangan besar bagi kami, karena sebelumnya kami berdiskusi dengan panitia ARTSUBS untuk menyajikan “jahitan” kontemporer dengan tradisi. Sehingga masyarakat (penonton) memahami dan menyukai pertunjukan ini,” kata Endah sekaligus Mitra ARTSUBS dalam menyuguhkan Subs Performance.
Endah juga berjanji, kedepan akan lebih banyak lagi pertunjukan seni serupa yang bakal digelar. “Akan ada pertunjukan-pertunjukan lain nanti tanggal 17 Agustus hingga penutupan ARTSUBS pada 7 September 2025 mendatang. Intinya, kami ingin membahagiakan masyarakat Jawa Timur,” ucap Endah.









