PASURUAN I bidik.news – Keberhasilan SDN Sumbersari II Beji
menyabet predikat Adiwiyata Jawa Timur memang sangat membanggakan. Kini sekolah tersebut bersiap menuju level nasional untuk meraih predikat yang lebih tinggi yakni Adiwiyata Nasional.
Untuk menuju ke tingkat nasional memang agak ketat, sekolah harus memenuhi puluhan indikator penilaian berbasis lingkungan.
Sedikitnya ada 24 indikator yang wajib dipenuhi sesuai regulasi terbaru. Penilaian itu terbagi dalam lima aspek utama, mulai pengelolaan sampah, kebersihan dan sanitasi, konservasi energi, konservasi air hingga keanekaragaman hayati.
Kepala SDN Sumbersari II Ratna Mufidah mengatakan, proses membangun sekolah berbasis lingkungan tidak cukup hanya mempercantik taman atau menambah fasilitas hijau.
Tantangan terbesarnya justru mengubah perilaku siswa agar terbiasa menjaga lingkungan sejak dini.
“Kami melibatkan semua pihak, mulai siswa, guru, wali murid sampai masyarakat sekitar. Yang paling sulit memang membangun kebiasaan menjaga lingkungan,” ujarnya.
Menurut Ratna, perubahan perilaku itu dilakukan perlahan melalui pembiasaan sehari-hari di sekolah.
Saat ini para siswa disebut sudah mampu memilah jenis sampah dan memahami pola pengelolaan lingkungan sederhana.
“Sekarang anak-anak sudah mulai paham membedakan sampah organik dan anorganik. Itu yang terus kami biasakan,” imbuhnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan Nur Kholis, menilai sekolah memiliki posisi strategis dalam membentuk budaya peduli lingkungan sejak usia dini.
Karena itu, program Adiwiyata tidak boleh berhenti sekadar mengejar penghargaan administratif.
“Yang paling penting adalah keberlanjutannya, bagaimana budaya lingkungan itu benar-benar hidup di sekolah,” ujarnya.
Ia menyebut sekolah berbasis lingkungan, memiliki dampak besar terhadap kualitas pembangunan daerah dalam jangka panjang.
“Kesadaran lingkungan itu tidak bisa instan. Kalau dibangun sejak sekolah dasar, dampaknya akan terasa pada kesehatan, sosial, sampai kualitas lingkungan di masa depan,” kata Nur Kholis.
Menurut nya, keberhasilan sekolah meraih Adiwiyata bukan hanya diukur dari banyaknya tanaman atau fasilitas hijau.
Melainkan sejauh mana kebiasaan peduli lingkungan benar-benar tertanam dalam keseharian siswa.
“Budaya inilah yang harus dijaga dan dilestarikan untuk menjaga keberlangsungan kelestarian lingkungan hidup,” imbuh Nur Kholis, Rabu siang (3/6/2026). (rusdi)











