Ketika sedang jatuh, dan lagi tidak ada pemasukan, sementara cicilan motor mesti di bayar, dan ada keluarga diluar kota yang dirawat di salah satu rumah sakit, kebetulan tidak punya asuransi dan tidak ikut BPJS, keuangan juga lagi kosong.
Anang ( 45 ) salah seorang tukang kebun salah satu sekolah negeri yang bukan ASN, dan pula belum dikontrak oleh pemda, sementara anak 3 orang masih kecil dan istri juga tidak bekerja.
Malam sekitar jam 21.00 Anang mencoba menghubungi beberapa orang untuk meminjam uang 1,5 juta untuk membayar biaya PPATK atas pengiriman uang temannya sebesar 2.000.000 RM ( Ringgit Malaysia) atau sebesar Rp 7.157.000.000,-, yang membuat dirinya gembira bercampur dag dig dug.
” Pak, saya pinjam 1.5 juta buat bayar biaya ppatk, karena teman saya yang berada di Malaysia mengirim uang 7 Milyar, rencana pengin buat kawasan pemukiman dan saya yang diberi amanah, sore tadi saya di hubungi salah satu orang yang mengaku dari PPATK, dan saya harus setor 1.5 juta,” papar Anang panjang lebar.
Si penjaga sekolah ini agak setengah memaksa untuk dipinjami uang, karena juga di desak oleh petugas yang mengaku dari PPATK.
Teman dari penjaga sekolah yang akan di pinjami uang, dengan dingin dan datar , menyuruh si penjaga sekolah ( tulang kebon ) ini untuk menelpon balik temannya yang berada di Malaysia untuk membayar biaya 1.5 juta ini.
Anehnya, pihak teman yang di Malaysia ini menunjukkan foto diri lagi di meja eksekutif, dan foto satunya lagi berada di depan apartemen. tetapi tidak menyinggung soal biaya PPATK.
Hingga 3 hari kemudian, rekening dari Anang ini tidak bertambah, dan si penelepon tidak menggunakan telepon kantor, melainkan menggunakan nomer ponsel di 0816………. dan juga rekening yg ditunjuk oleh yang mengaku PPATK adalah nomer pribadi bukan milik lembaga. (bersambung )











