BANYUWANGI – Nastain (46), warga Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, tiba-tiba dihantui diteror oleh seseorang dengan membawa senjata tajam (sajam), Senin (13/01/2020).
Bahkan aksi teror tersebut dilakukan pelaku dua kali dalam sehari. Kejadian awal sekitar jam 12.30 WIB di depan rumah korban. Saat itu, Nastain hendak menjemput putrinya pulang sekolah.
Pelaku berjumlah dua orang, mereka berinisial Y dan H, saat melakukan aksi teror kedua pelaku diduga dalam kondisi mabuk miras, merek diketahui juga warga Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari.
“Y dan H tiba-tiba datang ke rumah dalam kondisi mabuk. Kemudian Y menawarkan tawon dan minta uang Rp 50 ribu. Lalu saya jawab tidak punya uang.” Kata Nastain.
Dalam aksinya, lanjut Nastain, Y marah-marah dan memintanya untuk memukul dirinya. Ia juga menyebut, Y sempat mengangkat kursi dan membanting asbak.
“Pelaku sempat menyinggung soal pergantian kepala dusun. Dan saya dikira membantu Kepala Dusun yang akan dicopot oleh Kepala Desa Gintangan yang baru,” jelasnya.
Aksi teror kedua dihari yang sama terjadi sekitar jam sekitar jam 17.00 WIB, pelaku Y kembali mendatangi rumah Nastain bersama temannya J. Kali ini Y membawa senjata tajam berupa golok.
Dalam aksi teror kedua yang dilakukan oleh pelaku ini, Nastain mengaku memiliki bukti rekaman video. Dalam video berdurasi 50 detik tersebut, Y tampak jelas membawa senjata tajam yang digunakan untuk mengancam korban dengan jarak yang cukup dekat.
Dalam rekaman video itu, Y mengusap-usapkan golok ke celananya, kemudian langsung menusuk Nastain dengan golok tersebut. Secara bersamaan terdengar teriakan anak kecil yang terdengar ketakutan.
“Rekaman video sudah diminta penyidik,” tandasnya.
Nastain menambahkan, setelah kejadian dirumahnya, usai Shalat Maghrib pelaku kembali berulah dan melakukan aksinya terornya.
“Saya, istri, dan dua anak saya juga diteror saat perjalanan ke Kabat usai Salat Magrib. Sampai di batas Desa Gintangan, dia kembali menghadang. Tapi dilawan oleh anak perempuan saya. Banyak warga yang tahu kejadian itu,” ungkap Nastain.
Teror yang dilakukan Y dan kedua temannya itu terjadi dihadapan anak kandung Nastain yang masih berusia dibawah umur. Akibatnya anak tersebut saat ini mengalami trauma psikis dan untuk sementara waktu diamankan di rumah salah satu keluarganya.
Oleh karena peristiwa teror tersebut menyebabkan trauma pada anak, Nastain juga akan melaporkan kasus ini ke Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).
“Anak saya adalah saksi dari peristiwa teror itu. Jadi butuh perlindungan dan pendampingan,” ungkapnya.
Sementara, Kapolsek Rogojampi, Kompol Agung Setya Budi melalui Kanitreksrim Iptu Abdul Rohman saat dikonfirmasi melalui pesan Whatsapp selulernya membenarkan atas kejadian tersebut.
“Iya mas, tadi malam korban telah diperiksa,” ujar Iptu Abdul Rohman.
Saat ditanya, apakah polisi sudah berhasil mengamankan pelaku?, Ia menjawab hingga saat ini pelaku belum diamankan.
“Belum, karena tadi malam sampai dini hari masih memeriksa korbannya, mohon waktu…yaa..,” jawabnya.










