SURABAYA l bidik.news – Puluhan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Jawa Timur mendatangi ruang komisi E DPRD. Mereka diterima langsung oleh anggota Komisi E DPRD Jatim, Cahyo Harjo Prakoso.
Koordinator wilayah BEM Nusantara Jatim, Helmy Ardiansyah mengaku kedatangannya ke gedung DPRD untuk menyampaikan upaya pemerintah menuju Indonesia emas 2045. Ia menilai untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, generasi muda harus benar-benar dibidik. Bukan hanya mentalnya saja, tetapi pendidikan di Indonesia juga harus mendapatkan jaminan dari pemerintah.
Helmy menyebut realita saat ini yang harus dibenahi pemerintah adalah ketimpangan sosial masih terjadi di sejumlah wilayah Jatim. Khususnya di wilayah Tapal kuda dan Madura.

“Per hari ini kita lihat ada ketimpangan sosial di Jatim khususnya. Yang hanya menikmati jangan hanya dari metropolis saja, Surabaya dan Malang saja. Tetapi Madura dan tapal kuda juga masih kurang,” ungkap Helmy.
BEM Nusantara menaruh harapan kepada legislator Cahyo Harjo sebagai wakil rakyat untuk menyampaikan ke pemerintah, bahwa banyak yang harus dibenahi.
Helmy menegaskan, saat ini realita yang terjadi bahwa lulusan perguruan tinggi tidak ada jaminan mendapatkan lapangan pekerjaan. Meskipun nilai IPK-nya 4.0. Begitu juga mahasiswa yang menjadi organisatoris dengan membanggakan almamater, tidak ada jaminan lapangan pekerjaan.
“Ketimpangan di pendidikan. Begitu lulus sarjana juga masih belum bener bener menjamin mendapatkan lapangan pekerjaan. Seperti IPK 4.0 masih bingung. Begitu juga yang menjadi organisatoris dan membanggakan almamater tidak ada jaminan,” ucapnya pada Rabu ( 12/3/2025 ).
BEM Nusantara berharap agar kedepannya bisa saling berkolaborasi dengan DPRD. Dengan begitu, bukan hanya gelar aksi didepan DPRD untuk menyampaikan tuntutannya, namun juga bisa beraudensi.
Sementara Anggota Komisi E DPRD Jatim Cahyo Harjo Prakoso tak memungkiri bahwa saat ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) belum merata di Jawa Timur. Ia berharap pemerintah mengambil sikap agar IPM merata dan kemudahan mendapatkan lapangan pekerjaan di Jatim.
“Ini menjadi catatan kami (Komisi E) dan akan kita dibahas dengan dinas terkait. Bagaimana bisa mengoptimalkan program Pemprov yaitu pembangunan kawasan industri yang terintegrasi dan terkoneksitas betul-betul mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan untuk generasi muda.,” harapnya.
Anggota Fraksi Partai Gerindra mencatat IPM di Jatim sudah cukup tinggi, bahkan disparitas tidak jauh. IPM paling rendah yakni Bondowoso berada diangka 69%. IPM di Madura saja saat ini sudah bagus, bahkan mampu mengalahkan Bondowoso.
Ia menyebut hanya ada 4-5 kabupaten di Jatim yang IPM-nya rendah. Sementara kabupaten/kota lainnya IPM-nya rata-rata diatas 70 persen. Bahkan saat ini pertumbuhan 1,4-2% pertahunnya.
“Sebetulnya sudah baik. Cuma yang disampaikan tadi IPM tinggi tidak langsung berkolerasi dengan menurunnya tingkat pengangguran di Jatim. Harapannya kita IPM tinggi, IPM tidak hanya tentang lapangan pekerjaan. Tetapi tentang kesehatan kualitas pendidikan tingkat masa hidupnya seseorang,” tuturnya.
Cahyo yang maju Dapil Surabaya ini berharap dengan IPM tinggi, dapat membuka lapangan pekerjaan. Salah satunya caranya adalah menggalakkan program link and match dengan industri, universitas, SMK yang ada di Jatim.
Politisi asal Partai Gerindra itu berharap ada program link dan match dengan industri, para stakeholder, mahasiswa yang menjadi aktivis yang aktif di bidang sosial.
“Itu perlu mendapatkan perhatian dari kita. Karena selama ini mereka bergerak berjuang bukan untuk kepentingan dirinya kampusnya, tetapi justru masa depan bangsa,” tambahnya.
Menurut Cahyo, sebagai pemimpin bagian dari pemerintah harus memperhatikan masa depan generasi muda yang mau dalam perjalanan masa mudanya menghabiskan waktunya untuk kepentingan masyarakat. ( Rofik )











