JAKARTA | BIDIK – Crown Group, Perusahaan pengembang properti yang berbasis di Sydney mengumumkan informasi terbaru terkait hasil pengamatan para analis tentang investasi asing di pasar properti Australia.
Investor asal Tiongkok menghabiskan sekitar Rp. 240 triliun untuk properti di Australia pada tahun lalu. Angka tersebut, yang disatukan oleh situs daftar properti asal Tiongkok, Juwai.com, yang menggunakan data dari Dewan Foreign Investment Review Board (FIRB) Australia, naik sekitar 30% dari tahun keuangan sebelumnya, yang mencapai Rp. 184 triliun atau naik Rp. 60 triliun dari 2015.
Sue Jong, Chief of Operations untuk Juwai.com, mengatakan, investasi Tiongkok untuk properti asing di seluruh dunia diperkirakan akan melampaui Rp. 1000 Triliun pada akhir 2017.
Australia adalah pasar luar negeri kedua yang paling diminati oleh investor properti asal Tiongkok, di susul Amerika Serikat, dan di atas Hong Kong, Kanada dan Inggris. Pengeluaran mereka untuk properti Australia sekarang hampir Rp. 5 triliun per minggu, menurut laporan Juwai.com
CEO dan Komisaris Crown Group, Iwan Sunito menjelaskan, kapasitas ekonomi Tiongkok saat ini, tidak lah mengherankan jika mereka merupakan investasi asing terbesar untuk properti residensial di Australia.
“Bahkan untuk proyek-proyek kami, investor asing asal Tiongkok tetap kuat di posisi pertama, disusul oleh Indonesia di tempat kedua, kemudian diikuti oleh Negara-negara lainnya”, ungkap Iwan, Selasa (18/7/2017).
“Dari sisi kami, investasi asing asal Indonesia telah berkontribusi hingga Rp. 1,5 triliun yang didapat dari peluncuran proyek kami sebelumnya selama 3 tahun terakhir. Jumlah itu sendiri berasal dari gabungan nilai transaksi yang dihasilkan oleh 4 proyek kami yang telah diluncurkan, yaitu Arc by Crown Group, Oasis, Infinity dan Waterfall by Crown Group,” tuturnya.
Sementara itu, menurut penelitian baru berdasarkan data yang diperoleh atas permintaan kebebasan informasi oleh Hasan Tevfik dan Peter Liu, yang merupakan peneliti di Credit Suisse, orang asing membeli properti di Australia dengan tingkat rata-rata tahunan sebesar Rp. 80 triliun, atau setara dengan 25% pasokan hunian baru di New South Wales dan 16% di Victoria dalam 12 bulan terakhir.
Data yang dikumpulkan dari Credit Suisse pada Maret juga menunjukkan bahwa ada lebih dari 1.500 properti yang dibeli oleh orang asing antara Oktober 2016 dan Januari 2017, dimana 80% pembeli tersebut adalah pembeli asal Tiongkok.
Para pembeli asal Tiongkok telah menyumbang hampir 80% permintaan luar negeri di NSW. Sementara kelompok pembeli terbesar kedua, yaitu Indonesia, hanya menyumbang sebesar 1,7% dari total permintaan luar negeri.
Peringkat pembeli asal Indonesia di di Negara bagian New South Wales ini melebihi pencapaian dari para pembeli asal Amerika Serikat dan Selandia Baru yang menempati urutan ketiga dan keempat.
Menurut data terbaru dari CoreLogic, harga tempat tinggal rata-rata di Sydney meningkat sebesar 18,9% dalam 12 bulan sampai dengan pertengahan Maret, dan 14,7% di Melbourne. Dari Januari 2009, harga hunian di Sydney telah melonjak sebesar 106%. Pertumbuhan harga Melbourne juga menguat, atau meningkat sebesar 89% dalam periode yang sama.
Menurut catatan yang dikeluarkan oleh Tevfik dan Liu, di New South Wales ada 1,503 properti berhasil dijual yang melibatkan pembeli asing dari Oktober 2016 sampai Januari 2017 dan nilainya mencapai Rp. 16,3 triliun.
“Pembeli asal Tiongkok menyerap sejumlah 1,211 hunian atau sebesar 80% dan menyumbang 77% dari total nilai transaksi pembelian yang tercipta.”
Catatan mereka juga mengungkapkan bahwa di New South Wales ada sekitar Rp. 2,25 triliun nilai transaksi oleh pembeli asing pada Oktober 2016 dan ini naik menjadi lebih dari Rp. 4,5 triliun pada November dan Desember. Di Victoria nilai transaksi pada Desember lebih tinggi 50% dibanding November.
“Apa yang membuat Australia, terutama pasar properti di Sydney menjadi sangat menarik di Asia, karena kami memiliki keseimbangan yang baik sekali dengan kombinasi sempurna antara investasi luar negeri dan investasi lokal, dimana komposisi pembeli domestik masih menjadi yang terbesar” kata Iwan.
“Jangan dilupakan, fakta juga menunjukan bahwa daya beli dalam negeri juga tetap kuat. Itulah elemen kunci yang membuat pasar tetap kokoh dan sustainable” tutup Iwan. (hari)







