SAMPANG – Proyek rehabilitasi enam lokal kelas di UPTD SDN Jrengik 2, Desa Jrengik, Kecamatan Jrengik, terkesan asal-asalan. Bagaimana tidak, anggaran rehab tahun 2019 senilai Rp 420 juta yang berasal dari dana DAK itu, sebagian material bangunannya tak layak pakai.
Misalnya material kayu untuk kuda-kuda kerangka atap genting, menggunakan kayu yang sudah retak. Kayu bekas dari bangunan lama. Demikian pula dengan kayu usuk sebagian menggunakan kayu bekas pakai.
Padahal, proggram pemerintah Kabupaten Sampang melalui dinas terkait sangat memperhatikan setiap kepala sekolah yang mengajukan proposal guna mendapatkan dana rehabilitasi.
Dikonfirmasi, Kasi PLT harian Sarana dan Prasarana SD Diknas Kabupaten Sampang, H Abdurrahman mengatakan, akan menindaklanjuti temuan itu. ”Saya akan meninjau langsung ke SD tersebut. Akan saya tugas dua orang tim tehnis. Kalau memang terjadi manipulasi material semacam itu harus diganti, nanti akan saya buatkan berita acaranya juga,” katanya.Salah satu material bangunan saat proses pemasangan. Terlihat lapuk dan mudah patah. Kayu ini diduga terpasang di salah bagian lokal SD Jrengik.
Salah satu material bangunan saat proses pemasangan. Terlihat lapuk dan mudah patah. Kayu ini diduga terpasang di salah satu bagian lokal SD Jrengik.
Menurut Abdurrahman, bila ada temuan yang tidak sesuai dengan perencanaan, seperti material bangunan, ya harus diganti. ”Ini kan namanya tidak sesuai dengan rencana anggaran beaya (RAB) proyek,” ujarnya.
Saat wartawan bidik.news bersama salah seorang anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Garuda, Sampang, meninjau ke lokasi SD, di sana hanya ada dua pekerja bangunan. Sementara ketika kepala sekolah dihubungi melalui telepon tidak ada jawaban sama sekali.
Yasin, dari LSM Garuda menyayangkan dengan adanya penggunaan material yang tidak layak pakai. Seperti material kayu untuk kuda-kuda penyangga atap genting, dan usuk yang mudah lapuk. ”Saya heran sejauh mana pemantauan konsultan pengawas terhadap pembangunan proyek ini. Apa mereka tidak tahu kalau sudah terjadi penyimpangan dalam penggunaan, material bangunan,” katanya.
Tidak hanya soal material bangunan, papan yang menunjukkan besarnya dana proyek yang biasa terpampang di depan bangunan juga tidak dipasang. Bangunan sekolah tersebut hapir selesai. ”Saya sempat tanya sama kepala sekolahnya tempo hari, katanya anggarannya Rp 400 juta, tapi dari dinas kataya Rp 420 juta, mana yang benar ini,” pungkasnya.(syam)











