SURABAYA – Seiring berkembangnya dunia bisnis ketenagalistrikan, tuntutan dalam
pengelolaan pembangkit juga semakin beragam. Mulai dari peningkatan kinerja pembangkit hingga biaya pokok produksi yang lebih kompetitif.
Karena itu PJB menjadi yang pertama di Indonesia menjawab tantangan melalui RE-FORGE (Reliable And Efficient Powerplant Management). Konsep kustomisasi pengelolaan pembangkit untuk unit pembangkit dengan kapasitas yang relatif kecil (<50 MW) yang menjadi bagian dari Standardisasi Produk 2.0.
RE-FORGE, konsep kustomisasi yang dilakukan agar model bisnis pengelolaan unit pembangkit menjadi lebih terpusat dan tidak ada redundansi proses. Tidak hanya pengelolaannya yang terpusat, namun analisa juga dilakukan secara terpusat oleh para expertise di bidang pembangkit, sehingga analisa pun menjadi lebih akurat.
Untuk pengimplementasian RE-FORGE, PJB meresmikan secara virtual untuk Go-Live RE-FORGE PLTU Tembilahan akhir pekan lalu. Hadir Wiluyo Kusdwiharto Direktur Bisnis Regional Sumatera dan Kalimantan PT PLN, Supriyadi EVP Operasi Regional Sumatera PT PLN, Mukhtar EVP Operasi Regional Kalimantan PT PLN serta jajaran DireksI PT Pembangkitan Jawa-Bali.
PLTU Tembilahan sebagai Pilot project dari RE-FORGE ini akan menggunakan aplikasi
Maximo, sebuah aplikasi Enterprise Asset Management yang telah dikostumisasi sesuai BMS RE-FORGE. Aplikasi Maximo sudah umum digunakan dalam Pembangkit Listrik, namun kostumisasinya berbeda dengan RE-FORGE.
PLTU Tembilahan akan menjadi unit yang pertama kali mengimplementasikan RE-FORGE. “Implementasi RE-FORGE akan memberikan bantuan pembangkit-pembangkit berkapasitas kecil, terutama dalam meningkatkan keandalannya,” ucap Wiluyo Kusdwiharto.
Hal ini senada dengan rencana kedepan, dimana PLTU Bangka, PLTU Belitung, PLTU Bolok dan PLTU Ropa akan menjadi unit yang selanjutnya mengimplementasikan
konsep RE-FORGE.
Dengan konsep kustomisasi RE-FORGE, akan memberikan keunggulan bagi unit pembangkit PJB maupun pembangkit-pembangkit dari IPP lainnya. Karena selain mengefisiensikan proses bisnis yang kompleks, RE-FORGE juga dapat mengoptimalkan kapabilitas SDM dan menyederhanakan pola komunikasi antara PJB, PJB Services (anak perusahaan yang mengelola unit jasa operation & maintenance) dan unit pembangkit menjadi lebih sederhana.
RE-FORGE ini mengambil konsep waralaba yang berkembang di Indonesia. Pemilik
pembangkit tidak perlu direpotkan mengurusi perancanaan, supervise enginering, sampai mengatur supply chain yang harus dilakukan. Karena secara terpusat dan terkendali akan dilaksanakan oleh PJB.
Hal ini dapat berdampak kepada lebih fokusnya pemilik pembangkit pada
pengoperasional pembangkit saja. Sehingga akan mengurangi jumlah SDM yang diperlukan dan akan berimbas kepada penghematan biaya jangka panjang.
Sementara Iwan Agung Firstantara, Direktur Utama PT PJB menambahkan, RE-FORGE tidak hanya menjadi jawaban terhadap tantangan yang ada. Namun juga menjadi salah satu cara menyelaraskan program dengan Strategic Inisiative Grand Strategy PJB yang akan diangkat 5 tahun ke depan. Dimana salah satunya merujuk pada rencana implementasi digitalisasi monitoring dan evaluasi untuk semua pembangkit PJB (existing dan UBJOM) dan IPP.











