SURABAYA | bidik.news — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-88, publik dikejutkan dengan maraknya pengibaran bendera bergambar tengkorak ala bajak laut dari serial One Piece di berbagai sudut kota di Jawa Timur, seperti Surabaya, Malang, dan Sidoarjo.
Bendera berwarna hitam dengan lambang tengkorak bertopi jerami, simbol kelompok bajak laut Topi Jerami yang dipimpin karakter Monkey D. Luffy, terlihat berkibar di pinggir jalan, kendaraan, bahkan atap rumah. Fenomena ini menarik perhatian tak hanya dari penggemar anime, tetapi juga memicu perdebatan di kalangan masyarakat.
Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Fraksi PKB DPRD Jawa Timur, Fauzan Fuadi, turut memberikan komentar. Ia mengaku pernah mengikuti serial anime tersebut dan memahami konteks dari simbol yang dipasang warga.
“Saya sudah lama nonton One Piece. Sudah agak lupa jalan ceritanya, tapi filmnya bagus, menghibur, dan banyak pesan sosial-politiknya,” ujar Fauzan, Sabtu (2/8/2025).
Kibarkan bendera NU daripada Bendera One Piece
Namun, menjelang peringatan kemerdekaan RI, Fauzan menyatakan tidak akan ikut dalam kontroversi pengibaran bendera tersebut. Ia memilih untuk tetap mengibarkan bendera yang merepresentasikan identitas kebangsaan dan keorganisasiannya.
“Soal ramai-ramai warga +62 pasang bendera bajak laut itu, saya tidak ikut-ikut. Saya pasang bendera PKB dan NU saja,” tegasnya.
Fauzan juga mengimbau kader dan simpatisan PKB untuk memasang bendera partai sebagai bentuk identitas dan kebanggaan. Bahkan, ia dengan santai mengatakan siap mengirimkan bendera bagi yang belum memilikinya.
“Warga PKB lebih baik pasang bendera PKB. Kalau tidak punya, nanti bisa saya kirim,” ucapnya berseloroh.
Selain itu, ia juga mendorong masyarakat untuk turut mengibarkan bendera Nahdlatul Ulama (NU), sebagai simbol ke-NU-an yang kuat di tengah masyarakat Jawa Timur.
“Kibarkan bendera NU berdampingan dengan bendera PKB malah lebih bagus lagi,” tambahnya.
Namun demikian, Fauzan mengingatkan agar semangat kebangsaan tetap dikedepankan, dan bendera Merah Putih harus tetap menjadi simbol tertinggi di momen kemerdekaan, sebagaimana dawuh Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
“Pasang bendera apapun boleh, tetapi jangan lebih tinggi dari bendera Merah Putih, simbol Indonesia Raya,” tutup politisi asal Dapil Bojonegoro-Tuban itu.












