GRESIK. BIDIK. Sebagai cicit dari Krt Poesponegoro ( Bupati Gresik pertama kali) merasa bangga sebagai orang Gresik, dan identitas santri tidak boleh hilang, demikian salah satu statemen dari budayawan maupun pakar hukum dalam Forum Kajian Tematik yang di gelar Majlis Mudarosah Masjid Jamik Gresik, berlangsung di Masjid Babus Salam Kebomas, Gresik, Jumat malam (20/10)
Paparan ini sangat menarik, pasalnya banyak kota yang juga menyebut dirinya sebagai kota santri, namun Gresik punya ciri yang agak khusus, pasalnya industri yang berada di Gresik sudah tidak bisa di hitung lagi, padahal di beberapa hal susah untuk ketemu.

” Sebagai anak orang Gresik, saya masih bangga menyebut sebagai Gresik kota santri, sekarang yang menjadi parameter kota santri itu apa ? Apa banyak bangunan yang islami, kebiasaan masyarakat yang bergaya islami, pemimpinnya yg menganut islam, atau aturan produk pemerintah yang islami “, papa sang budayawan memulai paparannya.
Masjid, musholla, pondok pesantren di wilayah Gresik sudah sangat banyak, budaya berpakaian ala santri ? Sudah mulai luntur, sikap dan perilaku dari sebagian masyarakat yang dianggap tidak islami? Di beberapa sudut kota di buat pacaran, bahkan di alun alun, warung kopi yg berubah menjadi kopi pangku,
Produk peraturan yang betupa Perda juga bisa menhadi ” produk selingkuh” misalnya ketika membuat perda soal rokok, ternyata didalam salah satu pasal yang mengatakan rokok mengandung nikotin, begitu perda sudah jafi ternyata pasal tersebut hilang.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Kepala Kesbangpol Kab Gresik Choirul Ansm, Kepala Pol PP Kab Gresik Nuruddin, Polres Gresik, Solahuddin ( anggita DPRD Gresik), Syaiku Busiri ( anggota DPRD Gresik ). Dan hingga jam 23.00 para peserta madih antusias baik bertanya kepada 3 nara sumber, maupun sekedar berbagi pendapat untuk kemajuan Gresik. ( ali)







