YOGYAKARTA|BIDIK– Jawa Timur berpeluang menjadi daerah tujuan (destinasi) wisata Geopark. Potensi tersebut terdapat di tiga daerah seperti Bojonegoro, Lumpur Sidoarjo serta kawasan gunung Bromo. Sebelumnya ke tiga Provinsi (Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY Jogyakarta) telah sepakat mengembangkan kawasan Gunung Sewu yang telah diakui UNESCO.
Demikian dikemukakan Sekretaris Sekretariat Geopark Gunung Sewu Hary Sukmono kepada BIDIK saat saat berkunjung di Kantor Dinas Pariwisata Pemkab Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (19/10).
Ahli geologi lanjut Hary Sukmono, telah memetakan Jawa Timur menjadi daerah yang memiliki banyak potensi geopark untuk diteliti. Dalam waktu dekat, ahli geologi akan melihat potensi tersebut di daerah Bojonegoro yang memiliki objek Sumur Tua. Sumur Tua yang dimaksud adalah bekas sumur yang digunakan setelah sumber minyak habis.
Selanjutnya, adalah Sidoarjo yang menyimpan sejarah geologi terbesar dimana Lumpur Lapindo yang menghasilkan jutaan lumpur dari perut bumi. Sedangkan, daerah terakhir yang akan diteliti adalah Kawasan Gunung Bromo yang memiliki area geologi yang menarik.
“Mari kita jaga keindahan alam Jatim dan Indonesia. Jika tidak kita jaga sejak saat ini, anak keturunan kita tidak akan bisa menikmati hasil perubahan alam yang memiliki karya luar biasa,” urainya.
Salah satu Geopark Gunung Sewunya Jawa Timur yang diakui dunia itu terletak di Jawa Timur adalah Pantai Watukarang yang terdapat di Kabupaten Pacitan. Di tempat ini, memiliki potensi alam yang sangat luar biasa bagi peselancar dunia.
Belum lagi, Pantai Klayar yang terkenal dengan seruling samudra ditambah dengan panorama indah yang merekam fenomena tektonik yang masih aktif hingga sekarang.
Pacitan yang masuk dalam Geopark Gunung Sewu bagian Timur juga memiliki banyak wisata alam lainnya yang menarik seperti goa gong, goa tabuhan, Teluk Pacitan dan Pantai Srau.
“Kesemuanya ini adalah hasil keindahan alam dari pergerakan geologi yang menghasilkan karya indah bagi ummat manusia.
Jika ini dikembangkan dan dimanfaatkan, akan jadi potensi wisata yang sangat menarik sehingga turis turis lebih banyak yang berkunjung ke Indonesia,” imbuhnya.
Geopark Gunung Sewu Lanjut Hary Sukmono, memiliki luasan 1.802 km yang terbagi dalam tiga wilayah yakni Pacitan (Jatim), Gunung Kidul (DIY) dan Wonogiri (Jateng) menyimpan berbagai macam potensi jika dikembangkan secara optimal. Salah satu potensi besar yang bisa menjadi daya tarik pendapatan negara yakni melalui kepariwisataan.
“Geopark Gunung Sewu yang merupakan bagian dari UNESCO ini memiliki potensi pariwisata yang cukup besar. Keberadaan Geopark ini akan mendongkrak dunia kepariwisataan di Indonesia khususnya Jawa Timur,” tegas Hary.
Dalam paparannya dijelaskan, keberadaan Geopark Gunung Sewu harus mampu meningkatkan sekaligus jadi pengungkit kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar. Caranya, mengoptimalkan kegiatan ekonomi dalam bentuk promosi wisata.
Menurutnya, banyak konsep pariwisata yang bisa ditawarkan kepada wisatawan lokal maupun mancanegara. Sukmono mencontohkan, bahwa kegiatan wisata harus dikemas menjadi bagian penting dalam kesuksesan pengelolaan Geopark ini.
Masyarakat sekitar wilayah geopark diajak untuk mengembangkan diri melalui pemberdayaan wisata berbasis ekonomi. Masyarakat harus diajarkan membuat kerajinan maupun buah tangan atau oleh oleh yang bisa jadi produk bernilai jual tinggi.
Tak hanya itu, masyarakat harus diberi ruang edukasi sehingga wisatawan yang masuk bisa dengan mudah mengakses maupun menikmati sajian wisata yang ada di dalam geopark ini.
Sektor Pariwisataan ini sejalan dengan program pemerintah pusat dalam menggenjot kepariwisataan sebagai jalur utama mendatangkan turis mancanegara.
Tiga Bupati Sepakat Kelola Geopark Gunung Sewu
Bupati Gunungkidul, Bupati Pacitan, dan Bupati Wonogiri sepakat menandatangani peraturan Bupati bersama terkait pengelolaan Geopark Gunung Sewu.
Hal ini dilakukan untuk memantapkan pengelolaan Geopark Gunung Sewu yang mencakup tiga daerah, yakni Kabupaten Gunungkidul, Pacitan dan Wonogiri.
Penandatanganan Peraturan Bupati Bersama terkait Pembentukan Pengelola Geopark Gunung Sewu ini dilakukan sendiri oleh Bupati Gunungkidul, Badingah, Bupati Pacitan, Indartato, Bupati Wonogiri yang diwakilkan oleh Sekda Wonogiri, Suharno, di Kantor Pemerintahan Kabupaten Gunungkidul, Rabu (24/5/2017).
Penandatanganan Peraturan Bupati Bersama ini menjadi wujud komitmen tiga Kabupaten untuk bersinergi dan saling berkontribusi terhadap kelestarian dan kesejahteraan masyarakat di Gunung Sewu.
“Kami berharap agar kita dapat terus bersinergi. Ke depan, setelah terkelola dengan baik, Geopark Gunung Sewu dapat turut meningkatkan sektor pariwisata serta sektor lainnya di tiga daerah, sehingga secara langsung dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Bupati Gunung Kidul, Badingah.
Butuh Kerja Keras dan Dukungan Semua Pihak
Pengembangan Geopark Gunung Sewu ini butuh kerja keras dan dukungan semua pihak. Alasannya, luasan area yang ada tidak memungkinkan untuk dapat mengelola sendiri dalam satu kesatuan.
Terlebih, saat ini belum ada lembaga resmi dari pemerintah Indonesia yang siap mengakomodir segala kebutuhan dan optimalisasi Geopark yang telah menjadi bagian dari Unesco. “Kami mohon dukungan dan upaya nyata dari pemerintah pusat dalam mengoptimalkan geopark ini. Tidak mudah untuk mencapai konsistensi dalam pengelolaanya. Dibutuhkan komitmen kuat dalam menjalankannya.
Geopark Gunung Sewu masuk dan ditetapkan dalam keanggotaan Unesco pada 19 September 2015 di Tottori Jepang. Dijelaskannya, Geopark ini merupakan lintas tiga kabupaten dan provinsi pertama di Indonesia. Geopark ini memiliki 33 situs warisan alam terdiri dari 30 geologi dan 3 situs non geologi.
Dari 33 situs, tersebar di tiga daerah antara lain 13 situs di Kabupaten Gunung Kidul, 13 situs di Kabupaten Pacitan dan sebanyak 7 situs di Kab. Wonogiri. Geopark Gunung Sewu ini juga sebagai geopark global ke 2 di Indonesia dan geopark global ke 115 dari 120 geopark di 33 negara.
Geopark sendiri merupakan kawasan yang memiliki unsur unsur geologi terkemuka (out standing) termasuk nilai arkeologi, ekologi dan budaya yang ada di dalamnya. Geopark adalah salah satu bentuk pembangunan berkelanjutan yang menerapkan paradigma baru dalam pembangunan sumber daya alam. (zainul)







