SIDOARJO – Ketua kelompok tani dan sebanyak 60 orang petani gogol gilir Dusun Kaweden Desa Kedensari Kecamatan Tanggulangin mendesak Kepala Desa (kades) Kedensari, Mustakim untuk menghadirkan developer/pengembang PT Pilar Bangun Kencana (PBK) paling lambat Rabu 2 Juni 2021 di kantor desa setempat.
Tujuannya untuk meminta pertangung jawaban kades dan carik atas penjualan tanah ke empat orang petani yang sudah diberi uang tanda jadi (UTJ) agar dibatalkan karena penjualannya dinilai tidak prosedural dan tidak transparan.
“Intinya kami (petani, red) menolak penjualan dengan pengembang PT PBK, karena selain tidak prosedural dan tidak transparan, cara membeli tanah ke petani melalui door to door sambil menakut – nakuti sehingga petani mau diberikan uang panjar Rp 4 juta sebagai tanda jadi, ” kata Kartono, ketua Poktan saat dikonfirmasi usai pertemuan dengan kades di kantor desa setempat, Senin malam, (31/5/2021).
Selama pertemuan berlangsung, terjadi ketegangan antara carik, kades dan petani. Bahkan pertemuan tersebut seakan menjadi ajang untuk memblejeti kinerja kades dan carik.
Terutama pada saat petani mempertanyakan siapa saja ke empat orang petani yang sudah diberi tanda jadi oleh developer. Karena selama ini tidak pernah tahu sehingga bertanya – tanya siapa sebenarnya ke empat petani tersebut.
Bahkan carik mengaku lupa atau hanya pura-pura lupa ketika ditanya oleh salah seorang petani untuk menjelaskan siapa saja ke empat orang yang sudah diberi uang tanda jadi.
“Masak mengingat nama empat orang saja lupa, kecuali kalau sampeyan menghafal nama 300 orang. Ini kan lucu, wong sampeyan yang membuat perjanjian dan yang mengetik sendiri kok lupa,” desak Ambyah kesal.
Namun ketika didesak, akhirnya carik Yusro menyebutnya meski dengan jawaban agak terbata-bata sambil mencoba mengingat -ingat saat menyebut nama ke empat petani yang sudah diberi uang tanda jadi tersebut.
“Lha gitu saja kok alasan lupa. Saya minta pak kades untuk membatalkan dengan pengembang PT PBK, bagaimana dan apapun caranya. Pak kades dan pak carik harus bertanggungjawab atas penjualan tanah ke empat orang petani tersebut. Alam bawah sadar saya mengatakan, kalau developer tersebut nakal. Saya sudah cek di Dinas Perijinan dan tidak ada nama developer tersebut karena belum kantongi ijin lokasi, “papar Ambyah.
Walau begitu, carik masih mencoba berkelit dengan melontarkan kalimat bahwa ke empat orang petani masih sebatas di verifikasi dan belum dilakukan pembayaran uang tanda jadi.
Praktis, Ambyah pun naik pitam dan kesal dengan kalimat yang dilontarkan carik Yusro yang seakan mencari pembenaran sendiri.
Dengan nada tinggi Ambyah langsung melontarkan jawaban bahwa perjanjian sudah di ketik dan sudah ada uang tanda jadi kok masih di bilang masih diverifikasi.
“Kalau verifikasi gak begitu pak, wong sudah ada uang tanda jadi kok verifikasi. Kami minta kades juga harus berani bertindak dengan pengembang nakal tersebut, karena sudah berani membuka kantor penasaran di lahan Pasar Wisata dan menawarkan kepada calon pembeli (user) melalui brosur. Nanti kadihan kalau user yang menjadi korban, ” papar Ambyah.
Sementara Ketua BPD Kedensari, Mahbub Junaedi mengakui, kades kurang tanggap terhadap persoalan warganya. Namun ia mengatakan, sebetulnya antara warga dengan pendes tidak ada masalah, yang terjadi adalah warga bermasalah dengan pihak pengembang.
Untuk itu, dia menyarankan agar persoalan ini segera diselesaikan dengan memanggil pihak pengembang dengan secepat mungkin, agar keresahan petani bisa segera teratasi dan mencari jalan terbaik.
“Bagaimana pun kades adalah sebagai pelindung dan mengayomi warganya, apapun masalah yang terjadi di desanya, agar segera diatasi tanpa ada pihak yang dirugikan, apalagi warganya,” papar mantan ketua Intako.
Menanggapi hal itu, Kades Kedensari, Mustakim mengakui kurang tanggap terhadap persoalan warganya, terutama dengan pihak pengembang, namun dia berjanji akan berusaha berkomunikasi dan memfasilitasi mempertemukan dengan pihak pengembang secepatnya.
Terkait desakan pembatalan ke empat orang petani yang sudah di berikan uang tanda jadi, kades meminta waktu untuk berkoordinasi dengan atasannya, dalam hal ini pihak kecamatan, selaku pembina.
“Insya Allah besok Rabu 2 Juni 2021 kita hadirkan pengembangnya, saya berharap bisa datang menemui para petani,” janjnya.
Terpisah, direktur PT Pilar Bangun Kencana (PBK) Suhari ketika dimintai tanggapannya dengan hasil pertemuan pemdes dengan petani yang memintanya datang, pihaknya akan datang dan siap bertemu dengan petani.
“Insya Allah, saya akan datang pada pertemuan besok,” pungkasnya, saat dihubungi bidik.news, melalui percakapan selulernya. Selasa (1/06/2021).











