SURABAYA | BIDIK.NEWS – Di tengah tantangan ekonomi global yang ada, Bank Indonesia (BI) optimis, ekonomi Jatim masih akan tumbuh di 2023 seiring terciptanya sinergi kebijakan dan inovasi antara Pemda, BI dan lembaga/otoritas lain di Jatim.
Rizki Ernadi Wimanda, Deputi Kepala BI Jatim dalam Pertemuan Tahunan BI Jatim 2022 menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Jatim pada 2023 akan berada di kisaran 4,9% – 5,3% terutama ditopang tumbuhnya 5 lapangan usaha utama di Jatim, selain juga disebabkan oleh tingginya konsumsi dan investasi.
Terdapat beberapa tantangan perekonomian Jatim yang perlu diantisipasi, antara lain kondisi ekonomi global yang masih terancam resesi, gangguan mata rantai global dan ketegangan politik, serta kondisi ekonomi domestik yang perlu diwaspadai seperti konsolidasi fiskal, normalisasi kebijakan moneter, serta bantuan sosial untuk BBM dan subsidi upah yang tidak berlanjut.
“Namun, ekonomi Jatim berpotensi terus mengalami perbaikan seiring terkendalinya Covid-19, berlanjutnya pembangunan Proyek Strategis Nasional, serta meningkatnya kegiatan dalam persiapan Pemilu,” kata Rizki, Rabu (30/11/2022).
Bandoe Widiarto, Deputi Kepala BI Jatim menyampaikan, Pertemuan Tahunan BI merupakan puncak acara high level event BI, yang di dalamnya disampaikan pandangan BI tentang ekonomi ke depan, tantangan yang dihadapi dan arah kebijakan yang dilakukan dalam mendukung kebijakan pemerintah ke depan.
Dengan tema “Sinergi dan Inovasi Memperkuat Ketahanan dan Kebangkitan Menuju Indonesia Maju”, BI berharap sinergi dan inovasi dapat menjadi kunci menghadapi dinamika ekonomi yang terjadi, sehingga ketahanan dan kebangkitan ekonomi dapat diperkuat untuk mencapai Indonesia maju.
Adhy Karyono, Sekdaprov Jatim menyampaikan, Jatim tetap menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi hingga 14,36% dari PDB nasional. Tingginya kontribusi terlihat dari PDRB Non Migas Jatim yang mencapai 6,13% lebih tinggi dari provinsi lainnya di Pulau Jawa.
Berdasarkan lapangan usaha (LU) Utama, tiga LU berkontribusi hingga 60,88% dari total PDRB, serta mampu menyerap hingga 66,29% dari total tenaga kerja. Kinerja industri pengolahan Jatim juga menunjukkan adanya peningkatan yang lebih tinggi dibanding nasional, demikian pula dengan pertumbuhan investasi.
Nilai ekspor dan impor Jatim juga mengalami kenaikan yang signifikan, terutama pada impor komoditas bahan baku, yang menunjukkan adanya ekspansi di industri pengolahan. Kontribusi UMKM terhadap PDRB Jatim juga menunjukkan adanya peningkatan.
“Kunci sukses akselerasi ekonomi Jatim tidak lepas dari berbagai sinergi dan kolaborasi yang dilakukan Pemda dan stakeholders terkait, salah satunya dalam hal pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Berbagai inisiatif, kolaborasi, dan inovasi yang dilakukan stakeholders ekonomi Jatim merupakan upaya bersama memperkuat ketahanan dan kebangkitan menuju Indonesia Maju,” kata Adhy.
Rizki Ernadi Wimanda juga menambahkan, ekonomi Jatim pada triwulan III/2022 sudah lebih tinggi dibanding level pre-pandemi Covid-19 dengan capaian 5,58% (yoy). Ekonomi Jatim pada triwulan IV/2022 diperkirakan terus pulih sejalan dengan terkendalinya kasus Covid-19 karena optimalisasi vaksinasi Covid-19 yang menjadi game changer perbaikan ekonomi Jatim.
Bangkitnya ekonomi Jatim di tengah pandemi Covid-19 tidak lepas dari upaya sinergi perluasan digitalisasi Jatim yang terlihat dari peningkatan transaksi e-commerce, transaksi uang elektronik dan QRIS, serta pengembangan UMKM, ekonomi syariah, dan pariwisata untuk meningkatkan inklusivitas ekonomi Jatim seperti Festival Ekonomi Syariah Jawa, Java Coffee Culture, Side Event Presidensi G20, Rumah Kurasi, Sertifikasi Halal, dan pencatatan informasi keuangan bagi UMKM (SIAPIK).
BI memperkirakan Ekonomi Jatim pada 2022 tumbuh pada kisaran 5,1% – 5,5% (yoy) atau tumbuh lebih tinggi dibanding 2021 (3,57%, yoy). Sementara inflasi Jatim berada di atas batas atas sasaran inflasi nasional 3%±1%, yang diprakirakan akan turun di kisaran 6,2% – 6,6% (yoy). Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia merekomendasikan untuk memperluas penggunaan QRIS, peningkatan utilisasi Kawasan industri, hilirisasi agroindustri, meningkatkan Local Currency Settlement (LCS) dan meningkatkan ekspor ke negara yang menjalin kerjasama perdagangan.
Terkait pengendalian inflasi, KPwBI Jatim mendorong perluasan kesepakatan kerja sama perdagangan antardaerah secara B2B (Business to Business), tetap melaksanakan operasi pasar, mendorong modern farming, digitalisasi pemasaran produk pertanian, serta memperkuat stok beras Bulog untuk menjaga stabilitas pasokan beras.
Pertemuan Tahunan BI Jatim kali ini dihadiri 129 peserta secara luring dan 1.386 peserta secara daring pada kanal Zoom, Youtube dan Instagram BI Jatim. Pada acara ini, BI Jatim juga memberikan penghargaan kepada mitra strategis sebagai bentuk apresiasi kepada stakeholders yang telah mendukung akselerasi perekonomian Jatim di 2022.












