SURABAYA – Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Surabaya menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema ‘Kuota BBM dan Elpiji Bersubsidi Tahun 2020 di Jawa Timur’. dan Antisipasi Kekurangan Stok di Akhir Tahun’. Hadir sebagai narasumber, yakni Ir. Fandi Utomo mantan anggota DPR RI Tahun 2014 – 2019, Rustam Aji, Unit Manager Communication & CSR MOR V Jatim, Bali, Nusra dan Prof. Mutasor, Anggota Dewan Energi Nasional Angkatan I.
Ketua DEM Surabaya, Fahmy Ashari mengatakan, isu energi ini sangat penting, karena masih banyak mahasiswa dan masyarakat yang belum mengetahui apa itu isu energi. Atau atau belum pernah diperbincangkan di kalangan masyarakat, khususnya menengah ke bawah.
Dirinya pun ingin isu energi ini lebih diperhatikan, karena pada dasarnya salah satu syarat untuk menjadi negara berdaulat, adalah berdaulat di bidang energi. Sementara sampai saat ini Indonesia masih belum bisa disebut Berdaulat.
“Kami ingin mengedukasi kepada mahasiswa Surabaya untuk peduli dengan energi. Karena cita-cita kita adalah kedaulatan energi, karena Indonesia masih pada ketahanan energi. Jadi ada tingkatan di dalam energi, yaitu ketahanan energi, kemandirian energi, dan kedaulatan energi. Dan untuk saat ini indonesia yang masih di ketahanan energi aja masih kurang,” katanya belum lama ini.
Lanjutnya, salah satu yang menjadi akar permasalahan adalah revisi Undang-undang Migas No. 22 Tahun 2001. Karena beberapa pasal sudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Dan sejak 2012 itu sudah masuk di program legislasi nasional DPR RI setiap tahunnya. Tapi sampai saat ini revisi tersebut belum segera disahkan, karena masih terjadi perbedaan konsep antara Pemerintah dan DPR.
“Kita berharap, Pemerintah lebih mendorong pada pengembangan energi baru terbarukan. Karena Migas adalah salah satu energi tak terbarukan. Kita harus mendorong pemerintah mengupayakan pengembangan energi baru terbarukan. Karena selain ramah lingkungan, itu juga menjadi masa depan energi kita, meskipun harga energi baru terbarukan masih mahal. Maka kami mendorong Pemerintah mensubsidikan pada energi baru terbarukan,” imbuhnya.
Sementara Ir. Fandi Utomo menambahkan, kuota subsidi BBM dan elpiji yang terlampaui justru membuat subsidi kurang. “Memang konsumsi di Jatim naik, itu bagus. Tapi disisi lain, subsidi jadi kurang. Kalau konsumsi naik ada pertumbuhan ekonomi, karena tidak hanya untuk konsumsi, tapi juga untuk produksi,” jelasnya.
Fandi pun berharap agar para mahasiswa bisa mendorong, agar penggunaan energi itu tidak hanya untuk kebutuhan konsumsi. Tapi lebih banyak untuk produksi dan masyarakat didorong untuk masuk industrialisasi. Maka mekanisme distribusi BBM dan elpiji bersubsidi ini harus di atur. Berikutnya perilaku pengguna energinya. Dan yang keempat, energi baru terbarukan itu harus dinaikkan, karena itu bentuk-bentuk sumber energi yang tidak bisa dijual.
“Pada saatnya nanti subsidi bisa dipindahkan ke orang, subsidi transportasi itu sudah ke orang, subsidi untuk konsumsi itu ke orang tidak lagi ke elpiji. Dan saya mendorong adik-adik mahasiswa dan masyarakat luas menjadi pelopor pengembangan energi baru dilingkungannya meskipun pada skala yang kecil,” jelasnya.
Fandi pun berharap agar Pertamina terlibat untuk mendorong masyarakat, supaya bisa lebih mengembangkan sumber-sumber energi yang terbarukan.











