SURABAYA l bidik.news – Kontestasi Pilkada Kota Surabaya harus menjadi moment gagasan dan program dari Calon Walikota Dan Wakil Walikota untuk membangun Surabaya terus maju dan menjadi Rumah Besar bagi seluruh elemen masyarakat.
Hadi Dediyansah,S.Pd. M.Hum atau yang akrab disapa Cak Dedi adalah sosok arek Suroboyo yang memiliki “Relawan Konco’e Cak Dedi” dari komunitas akademisi, seniman, pengajar, aktivis sosial, pedagang, sopir dan komunitas lainnya siap berkolaborasi dan membangun komunikasi politik dicalonkan dalam proses demokrasi pilkada Surabaya tahun 2024.
Saat ini Cak Dedi masih menjabat anggota DPRD Provinsi Jawa Timur .
Hampir semua komisi yang ada di DPRD Jatim sudah dijabatnya .mulai dari Komisi A bidang hukum dan Pemerintahan kemudian Komisi E bidang kesejahteraan rakyat hingga Komisi D bidang pembangunan .
Artinya Cak Dedi sudah mengantongi segudang pengalaman dalam memimpin daerah. Apalagi Posisi Cak Dedi di structural Partai Gerindra sebagai Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Timur dan menjadi Dewan Pembina Gibran Center DPD Jawa Timur.
Melalui kegiatan “Ngopi Bareng Cak Dedi”, Saresehan dan berbagi “Makan Gratis” menerima banyak aspirasi dari masyarakat Surabaya.
“Menuju Surabaya Lebih Baik dan Membangun Tanpa Diskriminasi” menjadi tagline Cak Dedi yang asli arek surabaya. Disampaikan Cak Dedi menanggapi aspirasi ” Koncoe Cak Dedi ” bahwa membangun Surabaya itu harus berkolaborasi dan tidak memandang ras, suku, agama dan lainnya. Perhatian pembangunan harus disesuaikan dengan kelokalan karakter atau kearifan lokal warga Surabaya.
Ini perlu menjadi perhatian penting bagi Pemimpin Surabaya bahwa Arek-arek Suroboyo yang heterogen ini harus memiliki Privilage terhadap semua program-program pemerintah Kota Surabaya. Apalagi Ia punya harapan supaya etiap penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Surabaya harus diisi oleh Arek-arek Suroboyo yang kompeten minimal 50% sehingga pelayanan terhadap masyarakat bisa memahami dan mengerti betul.
Perhatian terhadap Lansia di atas 70 tahun pemerintah harus hadir memberikan subsidi Makan Gratis sehari 3 kali, elemen ibu-ibu sebagai Kader atau Penggerak jangan dikotak-kotakan dalam setiap pergantian Walikota, PKH, PKK, Kader Lingkungan dan lain sebagainya harus menjadi satu dalam organ fungsional pemerintah dan di luar kepentingan politik.
Banyaknya permasalahan kebutuhan tempat tinggal. Kota sebesar Surabaya sudah harus memikirkan bukan lagi rumah susun (rusun) tapi Apartement agar standart hidup masyarakat kota Surabaya lebih baik.
Untuk tanah yang masih berstatus Surat Ijo kami akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar bisa di serahkan sebagai hak milik kepada masyarakat yang selama ini menghuninya.
Icon-icon pariwisata dan cagar budaya “hilangnya Rumah Radio Bung Tomo” tidak boleh terjadi lagi dan bila perlu pemerintah harus mengambil alih semua bangunan yang memilik nilai cagar budaya yang ada di Surabaya. Jalan Tunjungan perlu dievaluasi lagi karena belum mencerminkan karakter Suroboyo, Mlaku-mlaku nang Tunjungan susah untuk menjumpai makanan khas Suroboyo seperti Rujak Cingur, Lontong Balap, Semanggi, Gado-gado dan lain-lain tidak di jumpai di sana.
Beberapa tempat pasar modern yang sudah dibangun masih sepi perlu dipikirkan pengalihan fungsi atau meningkatkan setrategi pemasaran agar semua pedagang bisa membayar sewa atau restribusi dengan harga terjangkau.
Sebagai kota terbesar ke 2 di Republik ini Surabaya juga pernah melahirkan banyak misisi dan seniman kondang, untuk itu industri musik harus di bangkitkan lagi. Wahana atau tempat hiburan rakyat serta tempat pariwisata perlu dikembangkan seperti wisata/hiburan modern atau yang masih alamiah.
Pemerintah tidak hanya memikirkan pajak daerah namun stimulasi untuk sektor industri pariwisata dan hiburan akan memberikan kontribusi penyerapan PAD dan sekaligus menyerap banyak tenaga kerja bagi warga Surabaya.
Program-program yang sesuai dengan UU atau UUD 1945 otomatis akan dilaksanakan dengan seksama, seperti Pendidikan gratis dan segamnya, Kesehatan gratis, menyediakan lapangan pekerjaan serta membina dan membangkitkan perekonomian masyarakat mandiri melalui program UMKM bagi penduduk Surabaya.
Dengan pengalaman sebagai Seorang Pendidik, Pengusaha dan anggota legislative Cak Dedi berharap dukungan masyarakat Surabaya bisa terwujud dalam konsep Kebersamaan, sehingga kemajuan pembangunan Kota Surabaya yang menitik beratkan pada pemingkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan peningkatan kesejahteraan warganya bisa terealisasikan. Surabaya tidak bisa dipikirkan oleh satu orang, Surabaya harus dipikirkan oleh seluruh masyarakat Surabaya.
Sehingga pembangunan fisik yang beberapa bersifat monumental maupun fasilitas publik masyarakat yang sejahtera akan merasa memiliki, merawat serta memberdayakan lingkungannya. Disitulah tolak ukur bahwa Surabaya akan menjadi kota yang dicintai masyarakatnya.( Rofik )











