BIDIK NEWS | SURABAYA – Forum Merdeka Barat (FMB) 9 menggelar diskusi bertajuk ‘Membangun Indonesia Dalam Perspektif Peningkatan Daya Saing Daerah” dengan empat narasumber, yakni Menristekdikti, Muhammad Nasir, Kemenhan, Laksda TNI, Agus Setiyadi, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Meliadi Sembiring, serta Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, pada Kamis, (22/11) di gedung Sekda kantor Gubernur Jatim ruang rapat Hayam Wuruk lantai 8. Diskusi bertujuan mengevaluasi pencapaian dan peningkatan daya saing daerah.
Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) mendorong peningkatan SDM, anugerah/potensi alam, adanya inovasi dan leadership (kepemimpinan) mejadi kunci utama dalam hal peningkatan daya saing daerah. “Ke empat hal ini menjadi kunci keberhasilan peningkatan daya saing suatu daerah,” ujar Nasir. Selain itu, komponen yang membentuk daya saing suatu kawasan/daerah, yaitu daya saing ekonomi makro dan daya saing ekonomi mikro.
Dijelaskan Mohamad Nasir, melalui sinergi antara pemerintah, akademisi, dan industri di era pemerintahan Jokowi, penguatan sumber daya manusia (SDM) di perguruan dan produk inovasi terus meningkat. Geliat positif tersebut muncul dari sejumlah perguruan tinggi dan Jatim. “Kami sampaikan penguatan riset di Kemenristekdikti dalam rangka daya saing bangsa. Daya saing bangsa harus kita dorong terus yaitu peningkatan SDM. Sekarang dalam pemerintahan Jokowi-JK menurut Global Competitiveness Report terkait daya saing bangsa Indonesia sudah mencapai peringkat ke-36 dari peringkat 41 sebelumnya,” ujar Mohamad Nasir.
Serapan KUR yang Besar, Bantu Kemajuan Koperasi dan UKM
Meliadi Sembiring, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, mengatakan
Ada dua kebijakan penting yang dilakukan pemerintah untuk memajukan koperasi dan UKM. Yakni menurunkan suku bunga KUR (Kredit Usaha Rakyat). Sebelumnya suku bunga 22%, diturunkan menjadi 7% pada 2018 ini. Kedua, penurunan PPh UKM dan koperasi, omzet dibawah Rp 4,8 miliar/tahun dari 1% menjadi 0,5%.
Meliadi Sembiring menjelaskan tentang dua kebijakan tadi bahwa suku bunga KUR turun sejak 2014 sebesar 22% menjadi 12% pada 2015 turun sebesar 9% pada 2017 serta pada tahun 2018 turun kembali menjadi 7%. Selain itu, kebijakan pemerintah untuk meringankan UKM dimana pada 2018 tarif PPh Final UKM turun dari 1% menjadi 0,5% bagi UKM termasuk koperasi yang memiliki omset/peredaran bruto maksimal sebesar Rp.4,8 miliar per tahun. “Penyaluran dan penyerapan KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang besar sangat membantu kemajuan koperasi dan UKM (Usaha Kecil Menengah),” ujar Meliadi Sembiring.
Meliadi memaparkan bahwa pada 2017, plafon KUR sebesar Rp 110 triliun dengan penyerapan sebesar Rp 96,7 triliun dan subsidi bunga sebesar Rp 9,02 triliun serta total debitur sebanyak 4.086.971 orang.
Selanjutnya, pada 2018, plafon KUR sebesar Rp 123,6 triliun dengan penyerapan sebesar Rp 100,1 triliun dan subsidi bunga sebesar Rp 11,97 triliun serta total debitur sebanyak 3.797.547 orang,
Sedangkan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, banyak mengupas keberhasilannya dalam memimpin Banyuwangi, yang penuh dengan inovasi. “Saya ingin cerita, tadinya ingin Tour Bnyuwangi Ijen mendapat exelent yang mendapat zero APBN bagi calon kepala daerah maupun para pengambil keputusan publik,” ujar Abdullah AzwarAnas.
Menurut Bupati Banyuwangi, dengan masuknya industri 4.0, ucapan terima kasih dilayangkan untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang telah mampu merumuskan problem infrastruktur yang menjadi program Presiden. “Kami mengambil cara, salah satunya dengan program smart kampung. Ketika di beberapa kota ada program smart city, kami pilih smart kampung,” ungkap Abdullah Azwar Anas.
Sehingga, lanjut Bupati Banyuwangi, ini menjadi pekerjaan bagi daerah. Wilayah Banyuwangi harus prioritaskan ini semua karena saat ini sudah terakses dengan 172 desa dengan fiber optic. “Alhamdulillah, upaya yang dikerjakan dengan Pemkab Banyuwangi ini membuat rakyat bisa melayani program ini sendiri. Contohnya, program pengentasan kemiskinan,” jelas Abdullah Azwar Anas.
Tentu saja, lanjut Bupati Banyuwangi, ini semua untuk meningkatkan daya saing daerah dengan meningkatkan perekonomian, koperasi bisa berdikari, dan kredit bisa berdiri. “Tapi jika potensi tersebut tidak ditingkatkan, kredit tidak akan berjalan. Alfamart dan Indomart tidak kami izinkan di Banyuwangi. Kami sedang membangun warung pintar, di mana mereka (masyarakat) bisa menjual tiket pesawat dan hotel. Sehingga tidak hanya menjual indomie dan kopi, tapi juga dibuka touris center. Bule bisa masuk kesini,” papar Abdullah Azwar Anas.
Karena tanpa inovasi, Bupati Banyuwangi menegaskan, kita akan terbatas yang hanya mengandalkan APBN dan APBD. Sekarang perhari sudah ada 1.600 orang ke Banyuwangi. Pada 19 Desember nanti ada direct flight ke Banyuwangi. Bandara itu tidak dibangun dengan APBN, tapi dengan sharing antara pemda dan swasta. (zainul)











