BANYUWANGI – Sejumlah masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Banyuwangi Bersatu (GARABB) dan Pro DemokrasiI (ProDem) menggelar diskusi publik menakar konsistensi, menjaga kesinambungan dalam 100 hari kinerja Bupati dan Wakil Bupati Banyuwangi.
Diskusi yang mengusung tema ‘Antara Visi Misi, Kinerja dan Pencitraan’ tersebut, dan digelar di Hall Room Hotel Ikhtiar Surya, Sabtu (05/06/2021).
Dengan dipandu moderator Mantan Ketua KPUD Banyuwangi, Syamsul Arifin menghadirkan narasumber, Ketua DPRD Banyuwangi, I Made Cahyana Negara, Ketua DPC Partai Demokrat Banyuwangi, Michael Edy Hariyanto, Katua DPC PKB Banyuwangi, KH.A Malik Safaat (Gus Malik,), dan Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIDA Blokagung, Agus Baihaqi.

Dalam keterangannnya, I Made Cahyana Negara menyampaikan, bahwa 100 hari tak bisa buat patokan menakar atau menilai, karena ini baru awal dan berjalan.
“Banyak persoalan yang sudah dilakukan oleh bupati baik UMKM, jemput bola perijinan, administrasi kependudukan, dan persoalan-persoalan di desa,” kata Made.
Sedangkan, Gus Malik mengungkapkan, 175 program penghargaan dari pemerintah sebelumnya itu masyarakat tak tahu dan tak berdampak banyak ke masyarakat.
“Jangan melakukan kebohongan publik, masyarakat ekonomi masih sulit kok,” tegas Gus Malik.
Sementara, Penggagas dan Penanggungjawab acara, Danu Budiyono mengatakan, dalam diskusi tersebut, sejumlah persoalan dikupas dengan gayeng, antara nara sumber dan peserta.
“Intinya, kami sangat mengapresiasi 100 hari kerja bupati dan wakil bupati yang membuat program lompatan jemput bola, dalam hal pendidikan, UMKM naik kelas, perijinan yang selama ini mandek, administrasi kependudukan dan lain-lain,” ujar Danu Budiyono
“Kami akan menyampaikan hasil reshume dari dialog publik tadi ke bupati langsung. Baik persoalan yang diangkat oleh narasumber, penanya, maupun hasil kajian kami,” imbuh dia.
Menurutnya, dilapangan pelayanan publik belum maksimal, bantuan-bantuan dari pemerintah juga belum merata. Seperti, masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.
“Kami tidak ingin apa yang dilakukan bupati dan wakil bupati itu terkesan pencitraan saja, dan sampai ada kebohongan publik, karena janji visi misi ketika nyalon bupati itu tak dikerjakan,” tandasnya.
Faktanya, lanjut Danu, hari ini ekonomi masih sulit, belum menunjukkan ke arah yang membaik. Dan satu lagi kegagalan 100 hari kerja bupati adalah terkatung-katungnya persoalan pemecatan THL.
“Acara diskusi seperti akan terus kita gelar minimal dua minggu sekali, kita akan kumpulkan para ulama dan kyai dari pondok-pondok pesantren,” pungkasnya.











