BANYUWANGI – Dimasa kampanye jelang Pilkada Banyuwangi, disejumlah sudut kota Banyuwangi tampak dihiasi billboard tolak politik dinasti.
Banner tersebut bertuliskan ‘Jadikan Banyuwangi Destinasi Bukan Dinasti’ serta ‘Politik Dinasti Mengebiri Demokrasi, Politik Dinasti Cenderung Korupsi’.
Tak hanya di Billboard, di media sosialpun juga ramai postingan foto billboard tolak politik dinasti tersebut. Bahkan ada hastag #2020LawanPolitikDinasti, dan #BanyuwangiMilikBersama.
Semua itu dilakukan oleh Gerakan Rakyat Banyuwangi Bersatu (GARABB). “Benar kami yang membuat, bukan hanya billboard dan banner, kami juga membranding tiga unit mobil,” kata M. Lukman Mahardika, Koordinator GARRAB.
“Kami juga memasang banner, jumlahnya sekitar 100 banner, ukuran 60 x 90 cm serta ukuran 1,5 x 2 meter, dengan narasi kalimat yang isinya hampir sama dengan banner yang ramai diperbincangkan itu,” sambungnya.
Bahkan, lanjut M. Lukman, pihaknya membuat banner dan membranding mobil itu jauh hari sebelum kontestan pilkada Banyuwangi ditetapkan oleh KPUD sebagai peserta pemilukada.
“Sekitar bulan Januari dan Februari 2020, kami juga mencetak selebaran bahaya politik dinasti, kami juga sosialisasi tentang apa itu politik dinasti, kami masuk ke kelompok millenial, ormas, masyarakat dan lainnya,” beber M. Lukman.
Ia mengungkapkan, saat ini relawan Gerakan Rakyat Banyuwangi Bersatu (GARABB) berjumlah lebih dari 200 orang.
“Diawal, kami terbuka merekrut siapa saja untuk jadi relawan, namun GARABB hanya fokus bergerak dibidang sosial politik saja.
Kami juga sosialisasi di sosial media melalui akun resmi kami,” terangnya.
Terkait bilboard dan banner itu, kenapa sekarang ramai diperbincangkan, mungkin karena pemilukada Banyuwangi yang sebentar lagi dilaksanakan.
“Kami (GARABB), jauh hari sebelum pilkada sudah ada dan sudah berkampanye apa itu politik dinasti. Narasi kalimat ‘Jadikan Banyuwangi Destinasi Bukan Dinasti’, semata-mata bentuk kecintaan kami kepada Banyuwangi,” tandasnya.
Maju dan berkembangannya Banyuwangi dibeberapa aspek kehidupan, selama dipimpin Bupati Abdullah Azwar Anas dan Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko. Didalamnya berkembang pesat destinasi wisata.
“Kecintaan kami akan demokrasi di Banyuwangi, tentu kami harap kami demokrasi lebih berkembang lagi. Kaderisasi partai politik hidup, kesempatan untuk mencalonkan pemimpin Banyuwangi sangat terbuka bagi siapa saja,” jelas M. Lukman.
Terlebih, saat ini sudah memasuki masa kampanye pilkada Banyuwangi yang diikuti oleh dua paslon yaitu nomor urut satu Yusuf Widyatmoko berpasangan dengan KH. M Riza Aziziy, sedangkan di nomor urut dua, Ipuk Fiestiandani berpasangan dengan H.Sugirah.
“Kedua duanya masuk bagian politik dinasti, yang mana Yusuf Widyatmoko menjabat Wakil Bupati selama 10 tahun, dan Ipuk Fiestiandani adalah istri Bupati Banyuwangi saat ini. GARABB berkeyakinan, bahwa masyarakat Banyuwangi sudah bisa menentukkan pilihan sendiri,” ujarnya.
Masih kata M. Lukman, penting kiranya pemerintah pusat, DPR RI serta lembaga terkait, kedepan membuat aturan hukum yang kuat sebagai upaya membatasi lahirnya kekerabatan atau politik dinasti.
Sebab, tumbuh suburnya wajah kekerabatan politik semakin menguat sejak bergulirnya reformasi politik dengan runtuhnya rezim otorarian orde baru pada 1998. Padahal, sempat ada aturan dalam pasal 7 UU nomor 8 tahun 2015 tentang pilkada yang melarang calon kepala daerah memiliki hubungan kerabat dengan sejawat.
Sayangnya, regulasi itu tidak bertahan lama, setelah dilakukan uji material ke Mahkamah Konstitusi (MK) dan membatalkan pasal tersebut. Sejak itu, tidak ada larangan siapapun pun untuk turut serta berpartisipasi dalam pilkada. Namun, tentu ada aspek substansial moral yang harus diperhatikan.
Karena politik dinasti itu jelas mengebiri demokrasi dan politik dinasti cenderung korupsi.
“Terkait bilboard, banner dan gerakan kami menurut kami sah sah saja, karena itu juga bagian dari demokrasi, dan itu juga terjadi di berbagai daerah yang terindikasi politik dinasti.),” cetusnya.
Untuk itu, GARABB menghimbau kepada masyarkat (pemilih) agar melihat rekam jejak atau biodata kandidat pilkada Banyuwangi, serta mencari tahu tentang program kerja (visi misi), agar dapat menghasilkan pemimpin yang bisa mensejahterakan rakyat dan memutus politik dinasti.(nng)











