SEMARANG | bidik.news – Stabilitas sektor jasa keuangan di Jawa Timur masih resilien. Hal ini tercermin dari berbagai indikator kinerja yang menunjukkan kekuatan sektor jasa keuangan di wilayah tersebut.
Hal itu diungkapkan Dedy Patria, Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) 2 dan Manajemen Strategis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jatim saat media gathering di Semarang, Kamis – Jumat (3-4/10/2024).
Kegiatan bertema “Sinergi untuk Menjaga Stabilitas Jasa Keuangan & Pelindungan Konsumen di Jatim” ini juga dihadiri Kepala OJK Jatim Yunita Linda Sari dan Kepala OJK Jateng Sumarjono.
Dijelaskan Dedy, kecukupan modal di berbagai badan usaha dan lembaga keuangan terjaga di atas ambang batas yang ditetapkan, dengan 30,32% pada 2 Badan Usaha (BU), 39,66% pada 246 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) serta
28,70% pada 25 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).
“Kecukupan likuiditas juga mencukupi untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat, ini ditunjukkan oleh 20,47% rasio AL/DPK (Juli 2024), 97,11% rasio AL/NCD (Juli 2024), 24,59% rasio CR BPR dan 33,44% rasio CR BPRS,” kata Dedy.
Risiko kredit termitigasi dengan baik, dengan tingkat Non-Performing Loan (NPL) dan Non-Performing Financing (NPF) yang terkendali 1,93% NPL Net Perbankan, 3,15% NPL Gross Perbankan, 3,02% NPF Gross Perusahaan Pembiayaan, 6,02% NPF Gross Perusahaan Modal Ventura,
2,34% Tingkat Wanprestasi (TWP-90) Fintech P2P Lending (Juli 2024).
Dedy juga memaparkan kabar baik terkait kinerja sektor jasa keuangan Jatim yang tetap tumbuh positif sepanjang tahun 2024. Beberapa indikator utama yang mengalami pertumbuhan antara lain:
Pertumbuhan Perbankan (Year-on-Year) dimana aset naik 6,27% menjadi Rp852,9 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 6,11% menjadi Rp785,2 triliun. Kredit naik 6,36% menjadi Rp589,6 triliun.
Pertumbuhan Pasar Modal (Year-on-Year), Rekening SID total meningkat 13,59% menjadi 1,73 juta rekening.
Kepemilikan saham naik 5,71% menjadi Rp103,3 triliun. Securities Crowdfunding (SCF) naik 7,78% menjadi Rp37,6 miliar, didukung oleh penghimpunan dana dari 27 penerbit.
Pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 10,50% mencapai Rp46,2 triliun.
Fintech P2P Lending tumbuh 30,32% dengan total pembiayaan sebesar Rp8,8 triliun (Juli 2024). Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan Syariah naik 6,9% menjadi Rp157,9 miliar dalam pembiayaan (Juli 2024).
Dedy menekankan pentingnya sinergi antara OJK, pelaku industri jasa keuangan, serta masyarakat untuk menjaga stabilitas sektor keuangan dan melindungi konsumen, khususnya di Jatim dalam menghadapi tantangan ekonomi global.











