YOGYAKARTA – Inflasi saat ini selain didorong pemulihan ekonomi pasca pandemi, juga adanya kasus perang Ukraina-Rusia, yang sebelumnya sudah dimulai dengan adanya krisis energi di Eropa.
Kondisi tersebut membuat harga komoditas meningkat dan ditambah adanya larangan ekspor dari negara-negara penghasil bahan baku, sehingga pasokan ke industri di Indonesia tersendat. Terutama di Jatim, karena kontribusi ekonomi di Jatim yang paling besar ada di industri pengolahan.
Hal itu dilontarkan Kepala Bank Indonesia Kantor Wilayah Jawa Timur (BI KPw Jatim) Budi Hanoto saat Capacity Building & Media Gathering Kpe BI Jawa Timur, di Yogyakarta, Jumat (10/6/2022).
Dipaparkan Budi, untuk ketahanan sektor korporasi dan rumah tangga (RT) Jatim masih terjaga sejalan dengan perbaikan kinerja ekonomi dan pembiayaan lapangan usaha utama di Jatim pada triwulan I/2022. Kinerja sektor korporasi dan rumah tangga terpantau meningkat sejalan dengan akselerasi di hampir seluruh lapangan usaha utama di Jatim.
“Pertumbuhan kredit korporasi terpantau meningkat pada periode laporan didorong oleh peningkatan kebutuhan pembiayaan korporasi sejalan dengan membaiknya permintaan domestik dan global,” katanya.
Dijelaskan Budi, akselerasi vaksinasi Covid-19 berimplikasi pada pembukaan sektor-sektor industri produktif, sehingga kegiatan ekonomi mengalami normalisasi dan konsumsi meningkat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekspor luar negeri dan akselerasi pertumbuhan konsumsi RT Jatim pada triwulan I/2022 yang lebih tinggi dibanding triwulan IV/2021.
Perbaikan kinerja ekonomi juga didukung oleh peningkatan penyaluran kredit di Jatim pada triwulan laporan dibanding triwulan sebelumnya, baik kepada korporasi maupun RT. Untuk pertumbuhan DPK Korporasi RT mengalami penurunan. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan kegiatan operasional usaha dan konsumsi rumah tangga.
Masuknya momen HBKN Ramadan dan Idul Fitri pada triwulan II/2022 juga mendorong terjadinya peningkatan konsumsi RT. Kondisi pertumbuhan kredit yang lebih akseleratif dibanding pertumbuhan DPK berimplikasi pada meningkatnya intermediasi perbankan di Jatim.
“Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan di Jatim pada triwulan I/2022 tercatat 86,39%, meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 85,08%,” ujar Budi.
Risiko kredit perbankan di Jatim pada triwulan I/2022 masih berada dalam batas aman dan terpantau melanjutkan tren perbaikan. Risiko kredit perbankan di Jatim sebagaimana tercermin dari Non Performing Loan (NPL) terpantau menurun dari 3,89% menjadi 3,82% (berdasarkan lokasi proyek) dan menurun dari 4,05% menjadi 3,85% (berdasarkan lokasi bank) dengan dukungan risiko likuiditas yang cenderung rendah.









