SURABAYA l bidik.news – Anggota Komisi C DPRD Jatim Muhamad Sholeh menyampaikan terkait
Skandal kredit fiktif di Bank Jatim Cabang Jakarta telah mencoreng citra BUMD milik Pemprov Jawa Timur. Kasus dugaan manipulasi kredit yang menyeret tiga tersangka ini mencatat angka kerugian fantastis, mencapai Rp569,4 miliar.
” Seluruh direksi yang ada di Bank Jatim perlu ada penindakan agar bisa menjadi Shock therapi . Jika perlu di rombak semua , ” terang M.Sholeh saat di temui di gedung DPRD Jawa Timur pada Senen ( 10/3/2024).
Anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD Jatim ini menilai kasus ini bukan sekadar insiden tunggal, melainkan bagian dari rangkaian panjang kebobrokan tata kelola di Bank Jatim. Ia meyakini kejahatan dengan nominal sebesar itu tidak mungkin hanya dilakukan oleh segelintir orang.
“Kerugian miliaran rupiah akibat kredit fiktif tidak mungkin hanya melibatkan tiga orang saja. Saya mencurigai ada pihak lain yang terlibat dalam kasus penggelapan Rp569,4 miliar ini,” ujar Politisi Demokrat yang maju Dapil Mojokerto dan Jombang ini.
M.Sholeh menegaskan, DPRD Jatim tidak akan tinggal diam dan akan menginisiasi investigasi mendalam.
“DPRD Jatim harus turun tangan membongkar skandal korupsi di Bank Jatim. Kalau perlu, jajaran direksi di Bank Jatim di tindak dan di rombak ,” tegasnya.
M.Sholeh menyoroti bahwa ini bukan pertama kalinya Bank Jatim terseret kasus besar. Sebelumnya, bank pelat merah ini mengalami kebocoran dana sebesar Rp119,9 miliar dalam skandal dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang memanfaatkan kelemahan BI Fast pada J Connect Bank Jatim.
Tak hanya itu, Bank Jatim Cabang Syariah Sidoarjo juga sempat terseret kasus kredit fiktif senilai lebih dari Rp25 miliar pada 2022, yang melibatkan orang dalam.
Sementara itu, pada 2021, Bank Jatim Cabang Kepanjen, Malang, juga tercatat mengalami kebocoran kredit fiktif senilai Rp170 miliar.
Menurutnya, rangkaian kasus ini menjadi bukti nyata bahwa Bank Jatim menghadapi masalah serius dalam tata kelola dan pengawasan. ( Rofik )











