MANGGARAI TIMUR (MATIM)— Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat Manggarai Timur (GEMPAR MATIM) melakukan aksi demonstrasi depan Kantor Bupati Matim, guna mendesak agar Bupati Matim segera mencabut izin pabrik semen dan tambang batu gamping di Luwuk dan Lengko Lolok, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur.
Dalam aksi unjuk rasa tersebut Iwan selaku Korlap GEMPAR menjelaskan, mereka datang untuk mendesak Pemerintah Daerah Matim agar menolak perencanaan pembangunan pabrik semen di Luwuk dan pembangunan tambang batu gamping di Lengko Lolok.
“Tuntutan aksi kami hari ini sangat jelas, agar Bupati Matim mempercepat tindakan dalam mencabut izin pabrik semen dan pembangunan tambang batu gamping,” jelasnya pada bidiknews Senin (13/07/2020).
GEMPAR Matim juga mendesak Bupati Matim untuk cepat merealisasikan misi, seperti mengembangkan ekonomi unggulan berbasis pertanian organik, pariwisata berbasis komunitas, industri kecil, koperasi dan usaha menengah dan kecil masyarakat dan Menciptakan iklim investasi serta dunia usaha yang berwawasan lingkungan, adil dan pro rakyat.
“Terkait rencana untuk mbangunan tambang dan pabrik semen di lengko Lolok dan Luwuk, tentu ini menjadi stimulan segar buat investor karena uang yang sudah mereka investasikan di tambang dan pabrik semen tersebut jumlahnya berlipat ganda. Oleh karena itu bisnis tambang dan pabrik semen tersebut memiliki tingkat omset nilinya yang fantastis dan bapak Gubernur Provinsi NTT ingat kembali pernyataannya, bahwa tambang bukan pilihan yang tepat untuk meningkatkan perekonomian rakyat NTT, tolong jangan lupakan itu, “sambungnya
Pada kesempatan yang sama Ketua Umum GEMPAR MATIM, Asgar sapaan akrbanya menegaskan, dengan dibukanya tambang dan pabrik semen tentu tidak serta merta membawa keuntungan untuk semua pihak, lebih khusus penduduk sekitar tambang dan pabrik semen tersebut.
“Ketika ada wacana membuka tambang dan pabrik semen ini, maka yang terjadi kawasan tersebut nanti akan merusak nilai ekosistem lingkungan hingga eksistensi sosial dan kebudayaan masyarakat petani, nelayan serta peternakan disana. Sirnalah tanah leluhur dan mata pencaharian penduduk,” tegasnya.
Menanggapi para demonstran, Sekda Matim Ir.Boni Hasudungan, mengajak para peserta demo untuk berdikusi di ruangan kantor Bupati Matim.
“Saya berjanji dalam waktu dekat akan melakukan koordinasi dengan Bupati Matim Andreas Agas, dan meneruskan apa yang menjadi tuntutan dari teman-teman GEMPAR Matim,” ungkapnya.










