GARUT | bidik.news – Kunjungan media yang difasilitasi Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur ke Eptilu Garut, Jumat (13/2/2026), menegaskan
Kiprah pusat edukasi pertanian Eptilu sebagai model pengembangan klaster hortikultura berbasis koperasi dan agrowisata yang berkelanjutan patut diacungi jempol dan dicontoh oleh petani lainnya.
Berlokasi di Jl. Raya Cikajang KM24, Desa Mekarsari, Kec. Cikajang, Kab. Garut, Jawa Barat, Eptilu berdiri sejak 2013-2014 dan menjadi pelopor agrowisata jeruk di kawasan dataran tinggi Cikajang.
Adalah Rizal Fahreza, pendiri Eptilu alumni IPB yang mengusung konsep F3 (Fresh From Farm) yang mengintegrasikan produksi, pengolahan, hingga distribusi dalam satu ekosistem bisnis tertutup (closed-loop).
Dijelaskan Rizal, berdasarkan data operasional 2024-2025, Eptilu mengelola lebih dari 75 hektar lahan hortikultura yang ditanami jeruk, lemon, cabai, tomat, hingga buncis. “Skema pengelolaan dilakukan melalui Koperasi Produsen Eptilu yang kini memiliki 27 anggota tetap dan 125 petani binaan yang hampir sebagian besar berusia di bawah 30 tahun,” kata pria yang sempat mengenyam ilmu pertanian di Amerika Serikat.
Model koperasi ini tidak hanya mengonsolidasikan produksi, tetapi juga menjamin standardisasi kualitas dan kontinuitas pasokan. Hasil panen disalurkan ke distributor pasar induk, jaringan swalayan, hingga segmen horeka (hotel, restoran, dan kafe), serta reseller di berbagai daerah.
“Pendekatan closed-loop membuat kami bisa mengontrol kualitas dari hulu sampai hilir. Petani mendapat kepastian pasar, konsumen mendapatkan produk segar dan terjamin,” ujar Rizal.
Tak sekadar kebun produksi, Eptilu juga dikenal sebagai destinasi agrowisata edukatif. Pengunjung dapat mengikuti program petik jeruk langsung dari kebun dengan latar pegunungan Cikajang yang sejuk.
Di area yang sama, Resto & Kafe Eptilu menyajikan beragam menu khas, termasuk nasi liwet dan olahan hortikultura hasil kebun sendiri. Konsep farm to table ini menjadi daya tarik tersendiri sekaligus memperkuat branding produk lokal Garut.
Operasional Eptilu buka Senin-Kamis dan Sabtu–Minggu pukul 08.00-18.00 WIB, sementara Jumat tutup.
Untuk meningkatkan nilai tambah, Eptilu juga mengembangkan berbagai produk olahan, mulai dari es krim berbasis buah segar, keripik kentang, bola susu, hingga olahan cabai seperti abon, bubuk, dan saus. Diversifikasi ini membantu menyerap hasil panen saat produksi melimpah sekaligus memperluas margin usaha.
Dalam pengelolaan kebun, Eptilu mulai mengadopsi pendekatan digital farming, termasuk pencatatan produksi, perencanaan tanam, dan manajemen distribusi berbasis data. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan efisiensi biaya di tengah fluktuasi harga hortikultura.
Sebagai binaan Bank Indonesia, Eptilu mendapatkan pendampingan penguatan kelembagaan koperasi, peningkatan kapasitas manajemen, hingga fasilitasi akses pasar dan promosi. Program pengembangan klaster yang dilakukan BI bertujuan memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendorong UMKM naik kelas melalui hilirisasi dan integrasi rantai pasok.
Eptilu menjadi salah satu contoh konkret bagaimana kolaborasi antara regulator, petani, dan pelaku usaha mampu menciptakan ekosistem agribisnis yang tangguh.
Kunjungan media yang difasilitasi Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (BI) Jatim ke Eptilu Garut, Jumat (13/2/2026) ini diharapkan memperluas eksposur Eptilu sebagai role model pengembangan hortikultura berbasis koperasi dan agrowisata, sekaligus menunjukkan bahwa sektor pertanian modern memiliki prospek cerah jika dikelola dengan inovasi dan tata kelola yang kuat.











