BANYUWANGI| Pelaksanaan eksekusi puluhan rumah di jalan Kepiting, Kelurahan Tukangkayu Banyuwangi mendapat perlawanan warga.
Sejumlah warga mengklaim sebagai pemilik sah tanah dan bangunan tersebut, karena mereka mengaku telah membelinya.
Selain protes, sejumlah warga melakukan perlawanan dengan cara memaksa mundur aparat dan alat berat yang akan melakukan eksekusi, bahkan saat itu sebuah alat berat sempat dilempari batu dan kotoran hingga kacanya pecah.
Eksekusi tersebut sebagai tindaklanjut dari permohonan yang diajukan oleh R.M Soewarso alias Gatot selaku pemilik sah lahan tersebut.
Ratusan aparat kepolisian gabungan dari Polsek dan Polres Banyuwangi dikerahkan guna mengamankan jalannya eksekusi tersebut.
“Tanah ini saya beli, saya punya segelnya, tapi kenapa nggak diseritifikat, jangan hanya yang punya uang saja yang disertifikat, yang nggak punya uang terus dibuang, jangan gitu…kita tetap punya hati nurani,” keluh Darti Purwaningrum salah seorang warga sebelum eksekusi dimulai.
Menurut Darti, eksekusi ini merupakan tindakan yang semena-mena, karena tidak berdasarkan hati nurani, apalagi musyawarah.
“Kalau semua sudah ada gantinya baru boleh diratakan, ini sudah tidak ada gantinya kok malah diratakan,” kesalnya.
Hal senada juga dikeluhkan Amsani warga lainnya, bahwa pemberitahuan akan dilaksanakannya eksekusi sangatlah mendadak, warga bingung karena tiba-tiba disuruh mengosongkan rumah yang ditempatinya.
“Surat pemberitahuan eksekusi dan pengosongan rumah datang hari Senin (11/11), sedangkan pelaksanaan eksekusi hari Rabu (13/11). Hanya dengan waktu dua hari, kita saja belum bisa mikir bagaimana dan mau apa,” cetus Amsani.

Sementara, Wahyudi Iksan selaku Kuasa Hukum R.M. Soewarso alias Gatot mengungkapkan, eksekusi ini dilakukan berdasarkan penetapan Pengadilan Negeri Nomor 7/Pdt.Eks/2000/PN.Bwi.
“Ini merupakan eksekusi lanjutan yang pernah dilaksanakan pada tahun 2001, dengan total luas tanah lebih dari 23 ribu hektar, dan saat ini sisanya 10 ribu hektar lebih, ditempati sebanyak 47 Kepala Keluarga (KK), dan yang 16 KK dengan inisiatif sendiri telah melakukan pengosongan rumahnya,” kata Wahyudi.
Meskipun mendapat perlawanan dari warga, pelaksanaan eksekusi tetap dilakukan. Sejumlah warga yang rumahnya menjadi korban eksekusi menangis histeris saat alat berat meratakan rumahnya.(nng)











