BIDIK|Kota Batu–Dua atlet paralayang asal Kota Batu mampu menahbiskkan diri sebagai pemuncak juara di tiga kelas berbeda dalam kejuaraan paralayang internasional (Batu International Tourism Paragliding Festival) di hari penutupan acara (Minggu, 30/7), “Batu Tourism International Paragliding Festival 2017” yang digelar sejak 27 Juli hingga 30 Juli.
Adapun dua atlet yang mencetak rekor sebagai juara pertama diantaranya, Roni Pratama yang berlaga di kelas open accuracy dengan nilai sembilan poin, Efwelin Agus Aruldais yang berlaga di kelas junior accuracy dengan nilai dua puluh tujuh point. Nama Roni kembali menghiasi daftar nama juara kelas festival yang telah ditetapkan dewan juri dengan nilai 512 poin.
Pada event yang diikuti 78 pilot paralayang kondisi cuaca sangat bagus. Kompetisi dimulai sejak pukul 07.30 WIB, kecepatan angin yang terpampang pada anemometer milik juri menunjukkan kecepatan angin 5km/jam. Juri pun memutuskan untuk memulai kompetisi dengan membuka kelas junior akurasi atas pertimbangan antisipasi angin berhembus kencang dan tentunya demi keselamatan para atlet junior. Atlet junior (pilot 1) dikategorikan jika jam terbangnya di bawah angka 100 jam.
Juri sempat menghentikan sejenak pertandingan kurang lebih selama 10 menit, saat atlet paralayang Jihee Yoo (Korea Selatan) dan Stephan Gradel (Jerman) hendak bersiap-siap take off. Jelas saja, hembusan angin yang mereka nantikan tak kunjung hadir menyapa kedua atlet tersebut.
Cuaca di sekitar lereng pegunungan yang sebelumnya cerah, seketika tepat pukul 10.00 WIB berganti mendung dan tertutup kabut sehingga lagi-lagi juri menunda pertandingan tersebut selama satu jam. Dari ketinggian kabut menghalangi jangkuan pandangan para atlet ke titik landasan.
Jika mengacu pada jadwal yang telah disusun sebelumnya, ada empat kelas yang akan dilombakan yakni, profesional accuracy, junior accuracy, cross country dan festival. Namun lamanya waktu penundaan membuat satu nomor yang akan dilombakan, cross country dibatalkan.
“Syukur saja, hari ini bisa menyelenggarakan babak final kelas akurasi (ketepatan mendarat). Namun satu nomor tanding dibatalkan, yakni cross country karena kondisi cuaca tak memungkinkan,” terang Ketua Juri, Sugeng Santoso.
Roni, peraih juara pertama kelas open accuracy maupun kelas festival menangkap kesan jalannnya perlombaan berlangsung sangat kompetitif. Dirinya sempat melontarkan tawa lepas, ketika disinggung durasi jam terbang yang dikantonginya.
“Hahaha, ya banyak,” sahut dia seolah-olah ingatannya tak mampu menampung pengalaman terbangnya yang kesekian kali.
Olahraga dirgantara bukan barang baru baginya. Sejak duduk di bangku sekolah dasar ia menjadi caddy paralayang. Hasratnya pun tumbuh dan tersalurkan untuk bergelantungan di atas parasut mengarungi angin ketika duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama.
Ia mengatakan baru saja pulang dari Kanada mengikuti kejuaraan dunia paralayang yang diselenggarakan di Mount Saint Pierre, Quebec, Kanada. Dari kejuaraan dunia tersebut dirinya mampu merebut predikat sebagai juara 1 beregu dan juara tiga perorangan.
Pantas saja dirinya tidak sempat latihan untuk menyiapkan diri mengikuti kejuaraan paralayang yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu. Dalam waktu dekat ini, Roni berlatih untuk persiapan ASEAN Games 2018.
“Saat ini lagi fokus latihan persiapan ASEAN Games. Ya sehari porsi latihan bisa hingga enam round,” ujar dia.
Sementara itu Walikota Batu Eddy Rumpoko saat memberikan sambutan penutupan penyelenggaraan laga paralayang taraf internasional itu, memberikan suntikan motivasi agar para atlit yang telah menorehkan prestasi terus mengasah kemampuan dari waktu ke waktu.
“Tentunya tak hanya menorehkan nama harum diri sendiri, keluarga dan kota Batu, bahkan dapat memberikan manfaat bagi bangsa dan negara. Pemerintah selalu hadir memberikan dukungan. Olahraga paralayang dapat bisa bergerak maju terlebih bisa menjadi icon Kota Batu,” papar Eddy saat memberikan sambutan penutup usai menyerahkan hadiah lomba juara kelas festival paralayang, di Lapangan Songgomaruto, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu.(didid)







