Dimasa pandemi kegiatan sosial dan perdagangan serba dibatasi, sehingga perekonomian sedikit morat marit, namun kehidupan dalam keluarga mesti berjalan terus.
Pasar yang awalnya harus saling bertemu muka, seiring pandemi lebih sehat dan lebih simpel melalui online.
Dan mental penipu tetap menggunakan penjualan secara online ini.
Ny Rohmah (40) pekerja salah satu pabrik di kawasan Rungkut, untuk menambah penghasilan keluarga, disambi jualan keperluan keluarga bagi tetangganya, seusai jam kerja.
Saat didapati ada penawaran di online berupa minyak goreng merk terkenal kemasan 2 liter, dan terdapat selisih harga Rp 7.000 dengan harga dipasaran.
Seketika dikontak si penjual dan berencana melakukan pembelian sebesar 500 ribu.
Percakan antara Rohmah dengan penjual berlangsung beberapa saat, dan penjual mengatakan kebetulan barang nya ada, mending beli sekalian agak banyak, dengan harapan keuntungan semakin besar. dan nilai transaksi disepakati Rp 1.500.000,- dan segera ditransfer.
Demi melihat selisih dengan harga pasar yang cukup lumayan, dan kalau di jual lagi dengan selisih Rp 1.000,- tetangga masih mau membeli, terpaksa menggadaikan kalung dan segera mentransfer pada rekening yang dimaksud.
Ditunggu hingga 3 hari setelah melakukan transfer uang, dan tidak ada pengiriman minyak goreng ke rumahnya, barulah sadar kalau dia di tipu.
” Saya sampai gak mau makan hingga 2 hari mas setelah sadar ketipu, dan saya nyelengi untuk membeli kalung itu juga beberapa tahun,” cerita Rohmah pada penulis. (bersambung )











