SURABAYA – Ketua Komisi E DPRD Jatim, Wara Sundari Reny Pramana menyampaikan bahwa pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) pada Juli mendatang harus ditinjau ulang, akibat lonjakan kasus Covid-19.
Hal ini disampaikan Politisi PDIP lantaran perkembangan kasus Covid-19 di seluruh daerah trendnya naik. “Kita wajib berfikir ulang rencana PTM di seluruh Indonesia, khusus untuk wilayah di Jawa Timur mungkin bisa dilakukan di Daerah tertentu yang dipastikan sudah aman, dengan kasus terinfeksi Covid-19 yang sudah melandai syukur-syukur menurun,” katanya saat dikonfirmasi, Jumat (25/6 ).
Wara menambahkan, itupun harus dipersiapkan secara matang regulasinya. Berapa lama proses PTM, berapa persen siswa di dalam kelas dan bagaimana Prokes ketat terjaga dengan baik.
“Satgas di setiap sekolah sudah siap, jangan sampai daerah yang awalnya melandai karena menerapkan PTM yang kurang persiapan bisa menimbulkan klaster baru,” terangnya.
Perempuan asal Kediri ini pun memaklumi Siswa sudah mulai jenuh, belajar, bermain, beraktifitas dirumah. “Tetapi semangat untuk bisa membuka PTM harus diimbangi dengan disiplin yang tinggi,” pungkasnya.
Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 Jatim per 20 Juni 2021, kasus positif sebanyak 163.548. Dari jumlah itu 146.881 sembuh, 12.127 meninggal dunia, dan 4.540 dirawat alias kasus aktif.
Kasus aktif terbanyak ada di Bangkalan dengan jumlah sebanyak 890 orang. Untuk itu perlu berkoordinasi dengan Satgas Penanganan Covid-19.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim, Wahid Wahyudi mengatakan kesiapan PTM terbatas SMA/SMK di Jatim sudah matang jika ditinjau secara menyeluruh, mulai dari penyediaan sarana prasarana sesuai protokol kesehatan hingga vaksinasi guru.
“Vaksinasi guru dan tenaga pendidikan dua kali dan ini sedang dilaksanakan Dinkes Jatim. Juni, semua guru SMA/SMK direncanakan sudah divaksin kedua,” kata dia.
Meski sudah siap, kewenangan PTM itu ada di Satgas Penanganan Covid-19. Sebab, syarat terlaksananya harus dapat rekomendasi dari satgas. Siswa juga harus mendapat izin dari orang tua.
Untuk model pembelajarannya ada dua, pertama guru fokus pada pembelajaran tatap muka dan bahan akan dikirim ke siswa yang belajar dari rumah.
Kedua, guru mengajar di kelas diikuti ssiwa dengan sistem interaktif. “Ini idealnya. Namun, untuk semantara ini bahan ajar dikirim kepada siswa,” tutur dia. ( rofik)










