MAGETAN I BIDIK.NEWS – Pemerintah Kabupaten Magetan, melalui Dinas Arsip dan Perpustakaan menggelar acara Mbulan Dadari di Pendopo Surya Graha Magetan, Sabtu (21/01/2023).
Mbulan Dadari merupakan salah satu kegiatan yang sudah masuk dalam Calendar Of Event 2023, dimana acara tersebut digelar secara rutin oleh Pemkab Magetan.
Dalam acara Mbulan Dadari episode ke-9 kali ini, bersamaan pula membedah buku Bupati dengan judul Antuk Amanah Bupati Magetan yang merupakan karya dari Bupati Magetan Suprawoto.
“Ini merupakan buku ke- 9 yang saya tulis. Saya menulis buku Antuk Amanah Bupati Magetan ini menceritakan semua yang saya alami ketika sebelum dan selama menjadi Bupati Magetan,”kata Bupati Magetan Suprawoto, Sabtu (21/01/2023).
Di depan para undangan yang hadir, Bupati Suprawoto juga menyampaikan, alasan kenapa buku dengan judul Antuk Amanah Bupati Magetan tersebut ditulis dengan menggunakan bahasa jawa. Waktu itu, buku ditulis waktu penyembuhan kakinya yang cidera.
Bedah buku “Antuk Amanah Bupati” kali ini mendatangkan tiga narasumber, antara lain Narko Sodrun Budiman yang membedah buku ini dalam perspektif budaya jawa, Narko menggabungkan dua judul karya Bupati menjadi satu kalimat, yang kemudian dikaji dalam filsafat jawa “Dalane Uripku Antuk Amanah Bupati Magetan”. Di 175 halamannya Narko dibawa seperti merasa mengikuti Bupati dikesehariannya berkeliling di Magetan dan mendokumentasikannya.
Narasumber kedua, Sutejo melihat sosok jiwa penulis dari Bupati. Sutejo menyebutkan tidak mudah menulis saat sibuk menjadi seorang Bupati. Tidak hanya itu, Sutejo juga mengungkapkan jiwa penulis Bupati Magetan juga dituangkan pada media Penyebar Semangat dan Radar Madiun.
“Ruh menulisnya bagian dari panggilan hidup dan panggilan jiwa. Sehingga menulis sudah menjadi kebutuhan hidup dan ini didukung oleh keluarga,” ujar Sutejo.
Untuk narsum ketiga yakni Tulus Setiaji melihat buku ini dari perspektif ketokohan perwayangan.
Meskipun ditulis menggunakan bahasa jawa atau bahasa daerah, menurut Bupati Suprawoto tetap tidak mengurangi nilai dari buku tersebut dan mudah dimengerti karena menggunakan bahasa keseharian yang sering digunakan.
“Jangan sampai hilang budaya jawa kita. Seperti salah satu buku saya dengan judul Dalane Uripku itu, saya bagikan di sekolah -sekolah agar bisa dibaca anak-anak, dengan harapan bisa mendorong mereka untuk bisa berkarya seperti saya,” pungkasnya. (eko)











